KERETA oleh bukanaQu.

kereta-copy

“Buku ini adalah kumpulan cerita tentang cinta dan hidup yang begitu luas dan beragam.” – bukanaQu.


Alhamdulillah, sebuah karya baru datang lagi dari seorang kawan baik, abang Ical, yang sebelumnya berhasil membuat saya jadi pengaggumnya lewat novelnya yang terdahulu. Beliau juga adalah seorang blogger aktif di wordpress. Bagi yang ingin mengintip tulisan beliau, ada di blognya.

Ciri khas beliau dalam karyanya yang seringkali saya dapati adalah beliau tidak pernah lupa mengangkat nilai-nilai sosial pada hal-hal sekecil apapun, saya suka bagaimana kisah cinta yang disugguhkan oleh beliau kesannya selalu mendewasakan, bukan cinta yang tergesa-gesa dan kekanakkan tapi tidak kehilangan momen kasmaran yang bisa membuat saya senyum-senyum sendiri.

Saya turut bahagia untuk beliau, terlebih royalti buku akan diberikan untuk keperluan gerakan Kelompok Cinta Baca Mataram, komunitas literasi yang beliau bina. Juga, terimakasih abang Ical, sudah mempercayakan saya untuk perihal covernya.

Bila teman-teman ingin pesan, buku ini dihargai Rp. 53.000, dipesan langsung ke penerbitnya: Mbak Tiara (085722025109). 🙂

Sehat selalu, Ichal!

Dear abang Ichal.

Selamat ulangtahun!

Selamat bertambah tua, dan aku percaya kalau kamu selalu berusaha menjadi lebih dewasa, ah tapi semoga tidak semakin keras kepala, enggan istirahat padahal tubuhmu butuh misalnya.

Tapi itulah kamu dengan prinsipmu, bahwa hidup selama masih muda harus bermanfaat sebaik-baiknya bagi yang lain, seperti turun kemana saja agar budaya membaca terjaga.

Muda juga berarti keharusan menulis bagimu, tengah malam yang terjaga adalah kamu dengan rangkaian kata-kata. Novelmu masih menjadi salah satu favoritku. Aku mengenangmu karena tulisanmu.

Semoga dengan prinsip-prinsipmu, kamu bisa merangkul adik-adik lainnya diluar sana, dan setiap 10 febuari semakin banyak do’a yang dilayangkan untukmu, seorang abang yang jujur apa adanya.

Post Scriptum: Tulisan ini teruntuk ketua Komunitas Cinta Baca Mataram serta kelompok menulis Akarumput, abang Ichal yang dikenal dengan nama pena bukanaQu juga merupakan blogger wordpress aktif sebelumya, saat ini sedang rehat.

Selamat ulangtahun untuk abang Ichal!

Jengah

Belakangan ini, hujan turun sesuka hati, dan kita akhirnya tidak bisa menghindar lagi, seperti hujan yang tak mahu tahu, kekakuan itu memaksa masuk di antara jarak aku dan kamu yang semakin menjadi-jadi.

Perihal kecanggungan yang kemudian menenggelamkan obrolan kita, atau barangkali akulah yang terlalu kaku untuk sekedar canda di kala sore, usahamu menyairkan suasana larut dengan udara malam yang pergi begitu saja.

Mungkin mengesalkan bagimu, ketika butuh usaha yang lebih banyak untuk lebih nekat dari biasanya, tapi alih-alih malah berunjung buntu dengan penolakan halusku.

Ada rahasia kecil yang andai bisa kamu pahami, aku terlalu malu untuk sesuatu yang belum pasti, dan kepastian semacam misteri alam semesta yang jauh dari bisa diduga, pun usaha manusia bukan hanya sekali duakali tak terjawab dengan semestinya.

Aku hanya jengah dengan resiko kehilangan atas sebuah dekapan, ketika kepastian masih di ujung persimpangan.


Post Scriptum: Bagian dari kegiatan rutin menulis bersama kelompok menulis Akarumput.

Terinspirasi dari kutipan sebuah puisi:

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. – Joko Pinurba. 

Perlahan

Tidak ada yang perlu dikejar dari sebuah perasaan.

Ia disitu, bersemayam di dadamu.

Tetap disitu tanpa harus  di apa-apakan dengan satu pengecualian,

Tetaplah menata sebuah perasaan. 

Agar ia tak memberatkan, seperti riuh rindu yang menyusahkan.

Sebab ada banyak hal yang harus dirisaukan selain sekedar urusan perasaan.

Tenang, biarkan ia tenang.

Biarkan cinta tumbuh pelan-pelan.


Post Scriptum: Malam Kamis berpuisi bersama kelompok menulis Akarumput.

 

Kepastian

Mungkin sikap acuh tak acuhku mengantarkan kamu pada titik lelahmu, terlalu jengah dengan ketidakpastian yang sering menjadi tanyamu, memenuhi ruang pikiran, berujung kamu dengan sebatang rokok dan kopi hitam.

Kamu telah alpa sesuatu, aku ini hanya perempuan, apa-apa yang kamu harapkan menjadi sesuatu seringkali tidak bisa ku apa-apakan jika hanya sendirian, tentang kita misalnya, tentang kepastian yang juga bergantung padamu, sebuah pertanyaan harus lebih dahulu datang darimu, untuk kemudian mencipta sebuah jawab dariku, perihal kepastian yang mana bisa aku dahulukan dengan tanpa kamu yang lebih dulu mengganggam tanganku.

Barangkali, kamu bisa membayangkan rahasia kecilku, aku disini diam-diam menyimpan hati dengan tetap mawas diri; tentang hakikat perempuan untuk tetap menunggu, bahkan untuk sekedar sapa yang mencipta senyum kecilku kemudian.

Mari Lebih Peka

Tadi siang, saya sempat tertawa kecil melihat video anak SD yang salah menyebutkan nama ikan. Tertawa karena gemas, gemas karena kepolosannya. Tapi walau menggemaskan, ada yang tidak bisa disepelekan dari video yang ‘disebar begitu saja’, mengutip dari seorang kawan, mas Hari Kurniawan, bisa jadi adik itu memilik Dyslexia – kesulitan membaca dan menulis, seperti ‘Ibu’ menjadi ‘Ubi’ – contoh yang saya kutip dari penulis Tere Liye, mungkin terkesan sepele, tapi bagi beberapa orang, hal tersebut adalah sesuatu yang serius, kalaupun dia tidak memiliki Dyslexia, menyebarkan video tersebut bisa jadi membuat adik kecil tersebut minder.
 
Mungkin kesannya, saya terlampau serius, tapi menjadi bahan tertawaan banyak orang tentunya tidak pernah menyenangkan, apalagi adik kecil kita itu dalam usia yang rapuh saja untuk merasa tidak percaya diri. 🙂
 
Tulisan super pendek ini adalah renungan untuk diri sendiri, dan usaha untuk lebih peka terhadap hal-hal sekitar saya.
 
Hari ini juga adalah hari Autis sedunia, mari berhenti dan tidak menggunakan kata Autis sebagai candaan, tidak keren sama sekali. 🙂

Post Scriptum: Tulisan ini juga merupakan bagian dari kegiatan menulis rutin kelompok menulis Akarumput.