Perihal yang ingin Kau dengar.

Aku tak tahu jawaban seperti apa yang sejatinya kau mau, dan aku hanya bisa menerka-nerka sebelum alih-alih kau bilang tak peka. Mencermati raut wajahmu yang masih tak bisa juga ku baca, pertanyaanmu membuatku buntu, berujung pada sebatang rokok, jurus jitu sebuah pengalihan.

Mungkin jawaban yang ingin kau dengar adalah aku tak pernah mencintai perempuan-perempuan sebelumnya seperti aku mencintaimu. Padahal tanpa kau tanya, aku mana ingat mereka dengan kau di sisiku.

Mungkin inginmu adalah aku sedikit berbicara perihal perasaan, tentang alasan aku mencintaimu, dan seperkian perihal perasaan yang selalu kau minta untuk dibicarakan, sedang selalu berujung dengan aku yang alih-alih justru menghisap rokokku, untuk kemudian membuatmu merengut manja, dan aku bisa apa ketika kau begitu, selain diam-diam menikmati raut wajahmu, dan sesekali menyodorkan bahu untuk sekedar kau pukul lembut dengan kepalan tangan mungilmu.

Aku mencintaimu, walau dengan seperkian resiko yang kadang membuatku duduk dengan sebatang rokok diberanda kamarku, mencari-cari alibi untuk menunda waktu merebutmu dariku. Aku mencintaimu, hanya itu, sebab itu yang ku bisa dan boleh, terlalu egois untuk berkeinginan memilikimu, sebab cinta manusia tak pernah mengkhianati Tuhannya.

 

Merantau: Sebuah Dilema

Barangkali, rata-rata yang menjadi salah satu dilema anak rantau adalah jauh dari orangtua sama halnya dengan tidak ada yang membangunkan sholat Subuh, alarm belum tentu menjamin akan membangunkan, dan Mushola yang tidak begitu dekat untuk suara Adzan. Pribadi, Ayah adalah yang kerap kali membangunkan saya sholat karena Ibu yang mempersiapkan hal lainnya (salah satu bahagia berada dirumah). Selama jauhan, Ibu lah yang akan menghubungi via telepon. Lanjutkan membaca “Merantau: Sebuah Dilema”

Pertanyaan-pertanyaan itu.

“Aku tahu, barangkali kekanakkan bagimu, tapi diluar sana, ada satu dua perempuan yang setidaknya berpikir begitu..”

“dan aku paling suka ketika kau mencari pembenaran begitu..”

“Coba saja tanyakan mbakmu..”

 “Dia pasti akan menertawaimu..”

Engg…pasti ada perempuan yang punya pikiran yang sama sepertiku diluar sana..”

“Aku paling cinta kau ketika merenggut begitu..”

“Jangan menggodaku..kamu menyebalkan..”

“Tapi kau cinta aku dan segala keusilanku..”

***

Aku tahu, barangkali kamu masih tertawa sendiri di teras kamarmu, sembari menghisap rokokmu, sebatang Malboro dengan kotak sampul merah khasnya. Atas betapa konyolnya pernyataanku, pada diskusi yang biasa kita lakukan di sela menghabiskan es buah pak Mamang yang kerap memutar lagu One Ok Rock kesukaanmu, pelanggan favoritnya yang bukan hanya sekali duakali mampir.

Tapi aku yakin, setidaknya ada satu dua perempuan yang punya pikiran begitu. Setidaknya mereka pernah bertanya-tanya, tentang perlakuan kekasihnya yang kemudian membandingkannya dengan perempuan sebelum-sebelumnya.

Aku sendiri tidak akan memungkiri, aku pernah begitu. Apa caramu memperlakukan perempuan selalu begini? apa caramu mencintaiku sama seperti sebelum-sebelumnya? Tapi aku tidak senekat itu bertanya langsung padamu, ku pikir lebih baik ku selipkan pada alibi diskusi kita semalam.

Sayangnya, seperti yang ku duga, kamu tidak mudah dibuat lengah untuk kemudian terbawa suasana dan jujur padaku, atau sekedar gombal bahwa kamu tak pernah mencintai perempuan lain seperti caramu mencintaiku. Kamu bukan lelaki seperti itu.

Tapi kemudian, aku tak peduli lagi, sebab pertanyaan-pertanyaan itu seolah sekedar memenuhi ego. Kekanakkan untuk mempertanyakan cintamu atas sesuatu yang sepele.

Toh Kamu disini, di sisiku.  

Demi Seorang Pria Nomor Satu

Ada sebuah kutipan menarik yang kemudian bisa menjadi bahan kontemplasi diri bagi kaum perempuan. Kutipan ini saya temukan di akun instagram Dagelan, kutipannya adalah Wanita yang kamu sakiti itu adalah seorang perempuan yang dibahagiakan mati-matian oleh ayahnya.

Kutipan ini sekilas tampaknya ditujukan untuk kaum laki-laki, yang mengingatkan agar menghindari menyakiti perempuan, hargai ayahnya.. atau siap-siap dicari dengan parang.

Tapi pribadi, kutipan ini saya rasa harus ditujukan juga bagi kaum perempuan. Bahwa alasan utama untuk berhenti menangisi seorang lelaki adalah sang Ayah, sang Ayah yang sudah mati-matian membahagiakan putrinya.

Patah hati dan menangis itu korelasinya memang teramat dekat bagi seorang perempuan, tapi terlena dengan sendu yang melagu adalah pilihan. Olehnya, patah hati dan perlawanan juga teramat dekat terhadap satu sama lain. Ia adalah sebuah perlawanan demi mengingat Ayah yang sudah bersusah payah membahagiakan.

 

Tentang khawatir yang membuat Ibu terjaga. 

Adik perempuan yang lebih muda empat tahun membuat saya memahami sesuatu, tentang khawatirnya seorang ibu. 

Saat ini kantuk menyelimuti dua bola mata, letih pada punggung yang hanya ingin rebahan untuk kemudian tertidur lelap, tapi gelisah memenuhi dada, sekelumit khawatir yang belum reda sebelum adik pulang. 

Olehnya, saya paham perihal ibu yang tidak akan tidur sebelum memastikan putrinya sudah tiba di asrama. Tentang ibu yang memastikan segala perihal, menghalau kekhawatiran yang menganggu pikiran. 

Seperti yang beliau lakukan empat tahun lalu, ketika saya menyandang status mahasiswi baru, secara tidak sadar saya memastikan semua keperluan adik perempuan saya seperti yang beliau lakukan, menghitung kemungkinan kami tidak lagi seasrama. 

Sebagaimana kekhawatiran menjadi risau dikala menunggu adik saya pulang, ada rasa syukur untuk setiap kekhawatiran yang telah dilalui ibu, tentang cinta beliau untuk putrinya.