Teman Perjalanan – Audio Version by Umi Sholikhah.

teman perjalanan


Untuk seseorang yang suka menulis, salah satu kebahagiaan yang saya rasakan adalah ketika seseorang membacakan tulisan saya, menjadikan tulisan saya dalam versi audio, ia menjadi  kado kecil; sebuah apresiasi dan penyemangat menulis.

Kado kecil itu kemudian datang sebagai kejutan kecil dari kawan bloger Umi Sholikhah yang akrab disapa mba Ikha atau Ibu Negara di grup Obrolin – wadah silahturrahm teman-teman bloger.

Saya tidak pernah mengira, mba Ikha meluangkan waktunya untuk membacakan Prolog –  Teman Perjalansaya bahkan sangat terkesan dengan totalitasnya; mba Ikha bukan sekedar membacanya, pada rekaman yang ia kirim, ia diiringi lagu Endless Love oleh Diana Ross.

Tadinya, mba Ikha ingin kado kecil ini menjadi koleksi pribadi saya, tapi ah…bagaimana bisa? karya bagus kok disimpan untuk diri sendiri?. Walau dengan sedikit akal dan nakal, saya akhirnya berhasil membuat mba Ikha mengijinkan saya untuk mengunggah audio Prolog – Teman Perjalanan oleh mba Ikha di Soundcloud.

 

Karena rasanya egois kalau saya menjadikannya koleksi pribadi, barangkali bisa menjadi inspirasi. Nah, selamat menikmati kawan-kawan, semoga mengena di hati. 🙂 

 

Waktu dan Hati

Waktu dan Hati seringkali memilih jalannya sendiri.

Kadang, hatimu mencintai seseorang diwaktu yang tepat, kadang juga diwaktu yang salah. 

Atau waktu menutun kamu pada seseorang namun hatimu masih tertinggal dibelakang. 

Sedang aku mencintaimu dengan perkara waktu yang kurasa tidak pernah salah, walau nanti waktu yang akan merebutmu dariku.

Aku bahagia dalam waktu dan hati yang menjelma sementara,

Aku ingin sementara yang lebih lama.

Mengeja Bahagia

“Kau tau kan, ada jutaan manusia di dunia…pilihanmu denganku mana bisa selalu sama..”

“Kau tentu juga tau bagaimana kemasan suatu produk seringkali lebih banyak menipumu..”

“Tapi itu lebih kepada soal selera..”

“Bahkan jika harus memilih, aku lebih suka kopi buatanmu..”

“Mungkin karena Kau minum dengan cinta atau sedikit gila..”

***

Renggutan kecilmu akhirnya menutup diskusi kecil kita, dan masih dengan aku yang tetap menolak sepakat denganmu, sembilan puluh lima ribu rupiah untuk secangkir kopi? gila ku pikir, sedang kau bilang aku mana tahu menikmati hidup, untuk sesekali menikmati gaji kerjaku dari Senin hingga Sabtu yang bahkan seringkali mengambil waktu kita untuk bercengkerama.

Katamu, sesekali manusia harus memberi hadiah kecil pada diri sendiri untuk tiap usaha, tapi Sayang, bahagia tidak melulu harus di eja dengan begitu mahal. Kau mungkin harus tau sesuatu, dari Senin hingga Sabtu yang membuatku lelah, hari Minggu menjadi bahagia sempurnaku dengan kamu yang masih sibuk di dapur memasak nasi goreng kesukaanku, hadiah kecil yang selalu ku tunggu, cukup dirimu.

Aku tahu, barangkali cukup egois buatmu, bagaimana Minggu seringkali kita habiskan bercengkerama di Pantai ketimbang melihat-lihat koleksi terbaru sepatu atau baju. Aku bukannya alpa akan perbedaan di antara kita, seperti bagaimana selera manusia bisa begitu berbeda-beda, dan aku mana bisa memaksamu untuk sepenuhnya ikut-ikutan mencintai duduk berdua dengan teh hangat sambil berbincang ringan di beranda rumah sebagai bahagia yang cukup buatmu.

Aku hanya ingin kau sedikit mengingat kembali, bahagia tak melulu di eja dengan barang mewah belaka, ku garis bawahi melulu, aku tak mesti selalu keberatan jika kau ingin sesuatu, tapi kau tentu harus tau, manusia kadang bisa begitu terlena dengan keinginan memiliki sesuatu – alih alih ia menjadi sebatas memenuhi egomu. Ada baiknya kita mengingat masa dimana aku pun kau merasa cukup dengan saling bercengkerama berdua, dengan hujan yang menjadi pledoimu untuk menggenggam tanganku lebih erat seolah jaketmu tak cukup hangat, atau ketika nasi pecel pinggir jalan yang menjadi paling nikmat ketika dilahap semasi hangat; selama kita berdua, selama kita mencinta.

Karena jika seandainya aku berada dalam keterbatasanku memenuhi inginmu, do’a kecilku adalah kita masih bisa mengeja bahagia yang sederhana, tentang rasa ketercukupan yang harus di jaga di dada, dan bagiku, kamu selalu begitu cukup untukku, aku selalu bahagia dengan keberadaanmu disisiku.


Tulisan ini diikut sertakan dalam Give Away Project Kolaborasi #MengejaBahagia oleh kak Parmantos dan kak Rifa yang diadakan dari tanggal 12 Juni hingga  2 Juli 2017. Siapapun boleh ikut serta, mari mengeja bahagia! 🙂


PicsArt_06-17-03.59.06