Review Novel – Terlalu Cinta oleh Pelantan Lubuk

Cinta itu begitu traumatik: di mana cinta tak sanggup menjadi apa pun selain menjadi rindu, dan rindu hanya bisa dilampiaskan dengan menunggu. Menanti dengan lugu. Menanti dengan segumpal rasa yang menyiksa dan membuat hati membiru.

Meski hanya segenggam, meski hanya sebentar, mereka harus bersyukur telah diberi kesempatan untuk menunjukkan cinta mereka dari dekat.

– Pelantan Lubuk 


img_20161116_082058_hdr

Kutulis novel ini sebagai kado ulangtahun untukmu.

Selamat ulangtahun, 12 Desember.

Terimakasih pernah membuatku terlalu cinta.


Beberapa waktu lalu, paket yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sebuah novel dari seorang abang Ical, bloger yang khas dengan diksi lugas yang indah dan padat. Selain memiliki hobi traveling dan wisata kuliner, beliau hobi membaca, saya pun percaya bahwa rekomendasi bacaan dari beliau pasti berkesan. Olehnya, saya langsung menyelesaikan novel kiriman beliau dalam sehari.

Kesan pertama pada halaman pembuka adalah saya sedikit ‘cemburu’, betapa beruntungnya perempuan yang disebutkan di halaman pembuka itu, bukan satu atau dua lembar surat cinta tapi sebuah novel untuk kado ulangtahunnya! Siapa perempuan ini? ada apa dengan mereka? Membuat penasaran tentunya!

Nah berikut ulasannya:

Novel ini berkisah tentang Izzat, seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi dan berkegiatan tapi perhatiannya mampu tercolong oleh seorang perempuan yang diam-diam saja ia perhatikan, ketidaksengajaan dari paksaan kawan-kawannya yang menyuruhnya ‘cuci mata’, tapi akibatnya besok-besok ia harus menanggung rasa penasaran akan sosok perempuan itu, wajah itu. Kesempatan dan temu membawa mereka pada beberapa titik cerita, berujung pada kedekatan yang diluar dari kemampuan Izzat untuk melupakan, dan menyadari bahwa ia telah terlalu cinta.

Perkiraan bahwa hati saya mungkin tidak siap dengan melankoli novel ini ternyata salah, dibalik judulnya Terlalu Cinta, novel ini justru menguatkan dengan diksi yang tetap indah.

Pun novel dengan 310 halaman ini berhasil membuat saya membacanya kembali satu duakali, membaca bagian yang saya sukai. Penyugguhan kisah cinta yang tidak menitik beratkan melankoli perasaan tokohnya, saya suka bagaimana Izzat bersikap dewasa dengan perasaannya, bukan cinta yang menggebu-gebu begitu saja, ia sendiri mengakui bahwa urusan jatuh cinta memang membuatnya jadi rempong dan berasa ‘bodoh’, menimang-nimang ini itu, seperti ingin tahu nama sang perempuan tapi ragu dengan strateginya, banyak hal yang harus ia pertimbangkan, ada wibawa yang harus ia jaga. Izzat pun membiarkan perasaanya mengalir begitu saja, ia yakin dengan prinsipnya, takdir yang diintervensi dengan rencana-rencana tidak dewasa akan merusak takdir yang sebenarnya sudah matang dan indah itu sendiri. 

Sehingga saya seringkali dibuat tersenyum dengan alur kisah cinta Izzat, Izzat yang berusaha tampak kalem walau ia senang bukan kepayang, ia yang diam-diam bergumam dalam hatinya; merangkai satu dua bait puisi untuk perempuannya. Persis yang dilakukan oleh sahabat laki-laki saya,  ia bercerita banyak tentang kebahagiaanya tapi selalu tampak kalem di depan perempuannya. Menarik. Memperlihatkan sisi lain seorang lelaki.

Cinta yang dewasa oleh Izzat juga di latar belakangi oleh lingkungannya, lingkungan organisasi dan komunitas serta tokoh-tokoh bijak, seperti ibunya dan Eyang Tulip, hal ini lah yang juga menjadikan novel ini sarat makna. Ada banyak kutipan yang indah.

“Setiap gerak di alam semesta ini punya rahasia sendiri-sendiri. Takdir seseorang saling berantai, saling terkait. Mengagumkan, takdir seorang sebagai pembunuh di kota ini ternyata bisa membuat taubat seorang pelacur di kota seberang lautan. Jangan, jangan pernah sesali hidupmu.”

Latar belakang tempat antara Malang dan Mataram juga cukup menyenangkan karena saya merasa familiar, ada nostalgianya juga, kota Ampenan Tua – rumah alm. Nenek.

Keseluruhan, saya suka pada Terlalu Cinta karya Pelantan Lubuk; sosok yang memilih untuk dirahasiakan karena novel ini dibuat demi menuntaskan perasaan rahasianya sejak lama.

Walau beliau mengatakan bahwa 90% novel ini adalah fiksi, dan hanya 10% adalah kisah nyata, 10% itu memang nyatanya menjadi penentu novel ini seperti ungkapan beliau di halaman pembuka, karena saya merasa ada beberapa kepingan yang sengaja ia comot demi kerahasiaan kisahnya. Perasaan bahwa ia tidak sepenuhnya jujur dengan hal-hal yang terjadi di antara Izzat dan tokoh perempuannya. Disitu diam-diam saya penasaran. 

img_20161116_081831_hdr

img_20161116_082955_hdr
Saya salut dengan sosok Pelantan Lubuk, galaunya bisa produktif dan bermanfaat bagi yang lain. Anyway, saya mendapatkan novel ini sebagai pemberian dari abang Ical.

Saya berterimakasih untuk abang Ical yang sudah mengirimi novel ini, terimakasih abang, saya paling suka novel yang sarat makna tapi enggak berat begini, romansa yang kalem-kalem walau sedikit greget dengan kepingan-kepingan yang disembunyikan penulisnya. 

Sistem Kerja Rindu

Aku kadang ingin tau dengan sistem kerja rindu. Ketika dua anak manusia dengan titik rindu ditengahnya.

Aku yang ingin mendengar suaramu, bertatapan dengan kedua bola matamu, berbincang banyak hal denganmu, dan aku yang memikirkanmu di sela-sela kegiatanku; aku yang sepertinya rindu padamu.

Lalu hatiku yang teduh usai perbincangan kita, oleh suara tawamu yang memasuki penjuru telinga. Aku yang tersipu bahagia, malu-malu padahal kamu di seberang sana, salah tingkah dengan telepon genggam yang masih menempel ditelinga.

Aku penasaran dengan sistem kerja rindu. Teduh hati akan terganti kembali oleh rindu. Selalu begitu.

Olehnya, terimakasih sudah membayar rindu, menenangkan aku.

Malang, November 2016.

Perihal yang ingin Kau dengar.

Aku tak tahu jawaban seperti apa yang sejatinya kau mau, dan aku hanya bisa menerka-nerka sebelum alih-alih kau bilang tak peka. Mencermati raut wajahmu yang masih tak bisa juga ku baca, pertanyaanmu membuatku buntu, berujung pada sebatang rokok, jurus jitu sebuah pengalihan.

Mungkin jawaban yang ingin kau dengar adalah aku tak pernah mencintai perempuan-perempuan sebelumnya seperti aku mencintaimu. Padahal tanpa kau tanya, aku mana ingat mereka dengan kau di sisiku.

Mungkin inginmu adalah aku sedikit berbicara perihal perasaan, tentang alasan aku mencintaimu, dan seperkian perihal perasaan yang selalu kau minta untuk dibicarakan, sedang selalu berujung dengan aku yang alih-alih justru menghisap rokokku, untuk kemudian membuatmu merengut manja, dan aku bisa apa ketika kau begitu, selain diam-diam menikmati raut wajahmu, dan sesekali menyodorkan bahu untuk sekedar kau pukul lembut dengan kepalan tangan mungilmu.

Aku mencintaimu, walau dengan seperkian resiko yang kadang membuatku duduk dengan sebatang rokok diberanda kamarku, mencari-cari alibi untuk menunda waktu merebutmu dariku. Aku mencintaimu, hanya itu, sebab itu yang ku bisa dan boleh, terlalu egois untuk berkeinginan memilikimu, sebab cinta manusia tak pernah mengkhianati Tuhannya.

 

Merantau: Sebuah Dilema

Barangkali, rata-rata yang menjadi salah satu dilema anak rantau adalah jauh dari orangtua sama halnya dengan tidak ada yang membangunkan sholat Subuh, alarm belum tentu menjamin akan membangunkan, dan Mushola yang tidak begitu dekat untuk suara Adzan. Pribadi, Ayah adalah yang kerap kali membangunkan saya sholat karena Ibu yang mempersiapkan hal lainnya (salah satu bahagia berada dirumah). Selama jauhan, Ibu lah yang akan menghubungi via telepon. Lanjutkan membaca “Merantau: Sebuah Dilema”

Pertanyaan-pertanyaan itu.

“Aku tahu, barangkali kekanakkan bagimu, tapi diluar sana, ada satu dua perempuan yang setidaknya berpikir begitu..”

“dan aku paling suka ketika kau mencari pembenaran begitu..”

“Coba saja tanyakan mbakmu..”

 “Dia pasti akan menertawaimu..”

Engg…pasti ada perempuan yang punya pikiran yang sama sepertiku diluar sana..”

“Aku paling cinta kau ketika merenggut begitu..”

“Jangan menggodaku..kamu menyebalkan..”

“Tapi kau cinta aku dan segala keusilanku..”

***

Aku tahu, barangkali kamu masih tertawa sendiri di teras kamarmu, sembari menghisap rokokmu, sebatang Malboro dengan kotak sampul merah khasnya. Atas betapa konyolnya pernyataanku, pada diskusi yang biasa kita lakukan di sela menghabiskan es buah pak Mamang yang kerap memutar lagu One Ok Rock kesukaanmu, pelanggan favoritnya yang bukan hanya sekali duakali mampir.

Tapi aku yakin, setidaknya ada satu dua perempuan yang punya pikiran begitu. Setidaknya mereka pernah bertanya-tanya, tentang perlakuan kekasihnya yang kemudian membandingkannya dengan perempuan sebelum-sebelumnya.

Aku sendiri tidak akan memungkiri, aku pernah begitu. Apa caramu memperlakukan perempuan selalu begini? apa caramu mencintaiku sama seperti sebelum-sebelumnya? Tapi aku tidak senekat itu bertanya langsung padamu, ku pikir lebih baik ku selipkan pada alibi diskusi kita semalam.

Sayangnya, seperti yang ku duga, kamu tidak mudah dibuat lengah untuk kemudian terbawa suasana dan jujur padaku, atau sekedar gombal bahwa kamu tak pernah mencintai perempuan lain seperti caramu mencintaiku. Kamu bukan lelaki seperti itu.

Tapi kemudian, aku tak peduli lagi, sebab pertanyaan-pertanyaan itu seolah sekedar memenuhi ego. Kekanakkan untuk mempertanyakan cintamu atas sesuatu yang sepele.

Toh Kamu disini, di sisiku.