[EVENT] HUNTING ORIFIC & POEM

Kakak-kakak, ada event menarik. Mari menulis. ūüĆĽ

Sayap-Sayap Senja

hunting

HALO, KAWAN-KAWAN PEMBACA!

Jumpa lagi dengan event menarik di Sayap-Sayap Senja. Kali ini, untuk memperingati tiga tahunnya blog ini (ya sebenernya masih Oktober, tapi saya takut aja nggak bisa ngontrol di bulan-bulan awal masuk, jadi saya posting sekarang, hehe) saya mau memanggil calon penulis-penulis besar yang bakatnya mau lebih diasah lagi!

Well, untuk event kali ini, sesuai tajuknya, ‚ÄúHunting Orific & Poem‚ÄĚ, mari kita semarakkan lagi dunia karya literasi di Indonesia dengan menuliskan cerita pendek dan puisi. Aturannya? Check this out!

Lihat pos aslinya 239 kata lagi

Pada Beban di Pundak

Permintaan Bapak untuk merubah sesuatu pada telepon genggamnya membuat saya berakhir duduk dengan beliau dan teman-temannya di barugak depan rumah. Saya menyibukkan diri dengan telepon genggam, sedang beliau bersama teman-temannya berbincang.

Barangkali karena udara dingin dan malam yang semakin larut, perbincangan yang ada semakin berat. Dari sekedar kendaraan hingga lari pada perihal yang jarang diperbicangkan sebagai seorang pria, seorang ayah tepatnya.

Tentang pundak seorang ayah dengan banyak perihal yang tersimpan disana, menjadi beban yang diam-diam saja ditahan, sendirian. Tentang kerisauan yang menyangkut biaya untuk masa depan dan sebagainya, tentang kegelisahan yang diam-diam mengisi pikiran, tentang tanggung jawab sebagai kepala keluarga, seorang bapak bagi anak-anaknya.

Perbincangan itu membuat saya diam-diam saja mendengarkan, menelan ludah, mengotak-atik telepon genggam dengan perasaan terenyuh. Dibalik kalemnya, ternyata ada banyak yang menjadi beban pikiran bagi seorang bapak.

Pada segala iya yang disahutkan seorang bapak untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan di keluarga, ada pundak yang diam-diam menahan beban. Sebagaimana ibu pernah berkata, matang-matang jika berkata ingin sesuatu, kalau bapak dengar, nanti bapak akan langsung mengusahakannya, walau susah sekalipun, yang namanya bapak, kalau anak yang minta, apa saja mesti di usahakan. 

Saya pun teringat pada sebuah bacaan yang ditulis oleh psikolog Kevin P. Mc.Clone, konsep dasar lelaki adalah keinginan untuk menyediakan dan melindungi, maka tidak heran dengan sikap seorang bapak yang cenderung memenuhi keinginan anak-anaknya, serta sikap over protective.

Olehnya saya teringat perihal pernikahan muda selebriti Alvin dan Larissa yang sebelumnya iseng saja saya buka, saya jadi sedikit paham mengapa rata-rata komentar nyinyir dari kaum lelaki adalah perihal finansial.

Tentang beban di pundak bagi lelaki yang jarang diketahui perempuan. Terlebih beban di pundak seorang Ayah.

Karenanya, nasihat yang saya ambil semalam, salah satunya adalah memberitahukan bapak sedari jauh hari jika berkaitan dengan finansial, agar selalu ada persiapan dan sisa yang bisa disisihkan untuk kebutuhan dadakan.

Buta

Tak heran jika perempuan bisa begitu tabah dengan penerimaan. Tentang hati yang selalu mau memaafkan, lebih tepatnya mudah saja luluh dengan seperkian penjelasan. Lalu sisi lembut yang selalu ingin memahami, memberi banyak pembenaran di kepala sedang kesalahan sejatinya sudah di ujung mata.

Hanya saja, penerimaan tak melulu perihal menerima apa adanya sedang luka memenuhi dada. Kau percaya cinta itu penerimaan, olehnya kau buta dengan perlakuan yang tidak seharusnya kau dapatkan. Kau pikir penerimaan itu adalah mencintai ia dengan segala peringainya, kasar padamu yang kau bilang khilaf saja.

Penerimaan yang kau kira tanpa kau sadari adalah buta. Terus saja kau dengan penerimaanmu, sembari kehilangan dirimu sendiri.

Kau lupa bahwa di samping penerimaan, cinta adalah perihal menghargai dan menjaga perasaan.

Penerimaan yang kau bilang cinta itu,  kau sedang tidak mencintai dirimu sendiri.

Kau bilang cinta, ku bilang buta.

Tentang Sekarang yang Nyaman

Pada hakikatnya, manusia bisa begitu sederhana, ikut berbahagia atas kebahagiaan manusia lainnya. Maka aku tidak membutuhkan banyak alasan atas kebahagiaanku terhadap momen indah orang lain. Pernikahan, misalnya. Sebagaimana aku yang menangis haru di momen pernikahan saudara, atau bahagia mendapati undangan pernikahan kawan blogger yang bahkan tidak pernah kopi darat sebelumnya.

Sebab bagiku, butuh keberanian besar untuk mengikat janji sakral tersebut. Bagaimana bisa dua manusia yang tumbuh tanpa satu sama lain sebelumnya berujung mempercayakan hidupnya pada satu sama lain kemudian?

Olehnya, aku kerap hanya tertawa jika ibu mulai membahas perihal jodoh hingga pernikahan, diam-diam aku mengalihkan pembicaraan. Aku malu, tidak seberani itu untuk sekedar membicarakan perihal pernikahan.  Bahkan ketika adikku yang jauh lebih muda menulis perihal dear future husband, aku masih tidak seberani itu. Walau sejatinya, ada banyak harap dikepalaku sedari dini. Nanti, aku tak mau kekasihku merokok, terlebih saat mengendong buah hati kami. Nanti, aku ingin kami panjat tebing bersama, dan banyak nanti lainnya.

Tapi aku tak mau banyak berbicara perihal nanti, pengalaman membuatku jera, menata banyak rencana untuk kemudian sekedar nelangsa.  Pun denganmu yang saat ini disampingku, aku tak ingin memberatkan kamu dengan banyak harap akan nanti yang aku sendiri belum tentu bisa menjaganya. Maka, biarlah kita mengalir apa adanya.

Sekarang, biar kita jalani sekarang yang ada. Sekarang, biar surat ini menjadi surat cinta untukmu tentang perasaanku yang sekarang, aku nyaman.

Tentang kamu yang tidak pernah lupa pada hal-hal kecil yang aku minta. Tentang lagu Payung Teduh yang kamu nyanyikan untukku, tentang video akustik dengan tato kecil ditanganmu yang mengisyaratkan inisial namaku, tentang foto kegiatan bermain volly yang ingin ku lihat. Aku sendiri seringkali lupa pada permintaan kecil itu, tapi kamu tiba-tiba kembali membayar janji-janji kecil itu. Aku suka, tau mengapa? buatku, romantisme itu adalah perihal mengingat hal-hal kecil. Sederhana memang, tapi ini bahasa romantisme bahwa aku selalu mengisi pikiranmu. Kamu ingat akan aku. 

Tentang kamu yang mau mendengarkanku. Aku pikir dalam sebuah hubungan, aku perlu menyampaikan perasaanku, bukan menunggu kamu untuk peka sedang aku justru diam tak bicara untuk kemudian merajuk tanpa penjelasan. Aku tak mau terlampau kekanakkan begitu. Aku memilih jujur, tentang cemburuku, tentang sedihku. Buatku, disini adalah titik untuk melihat kedewasaanmu. Maukah kamu mendengarkanku, akankah kamu menyepelekan perasaanku. Sebab perempuan terkadang hanya perlu di dengarkan, ditenangkan hatinya. Dengan kamu yang mau mendengarkanku, menjelaskan untuk menenangkan hatiku, sesederhana itu rasa nyamanku semakin jadi kepadamu.

Tentang kamu yang membuatku tertawa. Harus ku akui, bakat bercandamu mudah saja membuat perempuan jatuh cinta. Bahkan ketika aku bercerita padamu kemarin lalu, aku yang sedih karena merusak pintu mobil ayahku, candaanmu membuat sedihku sedikit lebih ringan.

Tentang kita yang santai saja. Aku suka begini, kita santai saja. Tidak pernah meributkan hal-hal sepele. Sebab aku tidak mau merumitkan yang bisa disederhanakan. Aku tidak akan marah perihal keterlambatan pesan, pun seharian tidak ada kabar. Aku percaya padamu, aku mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu. Pun aku paham jika sewaktu-waktu kamu butuh waktu untuk menikmati kesendirian barang sebentar, entah bermain bersama teman-temanmu atau sekedar menghilangkan jenuhmu.

Karena cukup kita terpisah jarak yang ada, bukan mencipta jarak  di dada dengan meributkan yang tidak berkepentingan. Perihal menekan ego untuk menjaga kehangatan. Bukankah hubungan adalah perihal dua orang yang saling berusaha menekan ego untuk kebaikan bersama.

Sejatinya, aku malu menulis ini. Ketika rasa pada hakikatnya tak butuh banyak penjelasan, hanya saja ini juga hadiah kecilku untukmu, aku bahagia menjadi perempuan dalam pelukanmu, sebagaimana yang pernah kamu katakan sebaliknya padaku.

Harapku hanya satu, jangan lupa dengan usaha cukup sebatang Malboro sehari, Sayang. 


Tulisan ini diikut-sertakan pada lomba GiveAway 12th Wedding Anniversary : Letter to My Husband/Wife, My Future Husband/Wife  oleh Bu Dyah. yang di adakan dalam rangka memperingati ulangtahun pernikahan beliau yang ke-12. Happy Anniversary Bunda. 

you-make-may-world-so-colorfull-thank-you1

THIS IS SO WRONG

THIS IS SO WRONG

Itu adalah hal pertama yang sebutkan saat mengetahui ada komentar blog yang saya sadar bukan dilakukan oleh saya.

image

54 menit yang lalu saya sedang tidur. Sedang tidur pulas dikamar, hp mati, jadi saya heran mendapati komentar tersebut.

Did someone do this? Because this¬† is not funny.ūüôā

Saya udah kepoin adek, but I know her, dia engga mungkin. Mbak? Gak mungkin banget. Level kerennya. Hacker? Oh c’mon, this kind of blog? What a nonsense right?

Enggataulah. Tapi saya enggak suka.

Jika ada teman-teman blogger mendapatkan komentar aneh, saya meminta maaf atasnya.