Mengeja Bahagia

“Kau tau kan, ada jutaan manusia di dunia…pilihanmu denganku mana bisa selalu sama..”

“Kau tentu juga tau bagaimana kemasan suatu produk seringkali lebih banyak menipumu..”

“Tapi itu lebih kepada soal selera..”

“Bahkan jika harus memilih, aku lebih suka kopi buatanmu..”

“Mungkin karena Kau minum dengan cinta atau sedikit gila..”

***

Renggutan kecilmu akhirnya menutup diskusi kecil kita, dan masih dengan aku yang tetap menolak sepakat denganmu, sembilan puluh lima ribu rupiah untuk secangkir kopi? gila ku pikir, sedang kau bilang aku mana tahu menikmati hidup, untuk sesekali menikmati gaji kerjaku dari Senin hingga Sabtu yang bahkan seringkali mengambil waktu kita untuk bercengkerama.

Katamu, sesekali manusia harus memberi hadiah kecil pada diri sendiri untuk tiap usaha, tapi Sayang, bahagia tidak melulu harus di eja dengan begitu mahal. Kau mungkin harus tau sesuatu, dari Senin hingga Sabtu yang membuatku lelah, hari Minggu menjadi bahagia sempurnaku dengan kamu yang masih sibuk di dapur memasak nasi goreng kesukaanku, hadiah kecil yang selalu ku tunggu, cukup dirimu.

Aku tahu, barangkali cukup egois buatmu, bagaimana Minggu seringkali kita habiskan bercengkerama di Pantai ketimbang melihat-lihat koleksi terbaru sepatu atau baju. Aku bukannya alpa akan perbedaan di antara kita, seperti bagaimana selera manusia bisa begitu berbeda-beda, dan aku mana bisa memaksamu untuk sepenuhnya ikut-ikutan mencintai duduk berdua dengan teh hangat sambil berbincang ringan di beranda rumah sebagai bahagia yang cukup buatmu.

Aku hanya ingin kau sedikit mengingat kembali, bahagia tak melulu di eja dengan barang mewah belaka, ku garis bawahi melulu, aku tak mesti selalu keberatan jika kau ingin sesuatu, tapi kau tentu harus tau, manusia kadang bisa begitu terlena dengan keinginan memiliki sesuatu – alih alih ia menjadi sebatas memenuhi egomu. Ada baiknya kita mengingat masa dimana aku pun kau merasa cukup dengan saling bercengkerama berdua, dengan hujan yang menjadi pledoimu untuk menggenggam tanganku lebih erat seolah jaketmu tak cukup hangat, atau ketika nasi pecel pinggir jalan yang menjadi paling nikmat ketika dilahap semasi hangat; selama kita berdua, selama kita mencinta.

Karena jika seandainya aku berada dalam keterbatasanku memenuhi inginmu, do’a kecilku adalah kita masih bisa mengeja bahagia yang sederhana, tentang rasa ketercukupan yang harus di jaga di dada, dan bagiku, kamu selalu begitu cukup untukku, aku selalu bahagia dengan keberadaanmu disisiku.


Tulisan ini diikut sertakan dalam Give Away Project Kolaborasi #MengejaBahagia oleh kak Parmantos dan kak Rifa yang diadakan dari tanggal 12 Juni hingga  2 Juli 2017. Siapapun boleh ikut serta, mari mengeja bahagia! 🙂


PicsArt_06-17-03.59.06

 

Delapan Juni Bahagia.

Untuk semua yang maaf gak bisa disebutin satu-satu tapi tiap ucapan melekat dalam memori; yang sudah meluangkan waktu untuk sebuah do’a, dua hal paling mahal dari seorang manusia.

Terimakasih, saya sangat bahagia.

Semoga sehat selalu menyertai sebagaimana do’a yang dilayangkan atas hari lahir ini; 8 Juni 2017. Alhamdulillah. Sekali lagi, Terimakasih. 💜

Anjangsana.

Pada diskusi kecil, kita pun sepakat bahwa tiap perpisahan punya definisinya tersendiri, sebab ia berurusan dengan hati.

Bagimu, perpisahan adalah rindu yang tanpa jeda, untuk kemudian semakin dewasa oleh batas ruang dan waktu.

Sedang bagiku, ia menjauhkan kamu dari aku, sesederhana itu.

Tapi pada perbedaan itu, ada keinginan yang satu; waktu temu yang lebih lama dan mesra untuk membayar rindu.

Sebab layaknya dirimu, aku juga rindu.

IMG_20170523_073328