Hei Perempuan, Pulanglah!

Hei perempuan, sampai kapan kau disitu?

Menatapi senja, tenggelam dalam penantian

Hei perempuan, bagaimana bisa kau tak bosan?
Lampu tua diatasmu pun sepertinya sudah muak dengan keberadaanmu

Hei perempuan, enggankah kau pulang?
Sebelum tubuhmu tinggal kuliat pembalut tulang habis oleh angin malam
Sebelum para hidung belang memetik melatimu

Hei perempuan, bagaimana bisa pria seperti dia?
Sungguh batang hidungnya pun takkan pernah muncul!

Hei perempuan, pulanglah!
Kau terlalu indah untuk bodoh seperti ini!

Hei perempuHei perempuan, sampai kapan kau disitu?

Menatapi senja, tenggelam dalam penantian

Hei perempuan, bagaimana bisa kau tak bosan?
Lampu tua diatasmu pun sepertinya sudah muak dengan keberadaanmu

Hei perempuan, enggankah kau pulang?
Sebelum tubuhmu tinggal kuliat pembalut tulang habis oleh angin malam
Sebelum para hidung belang memetik melatimu

Hei perempuan, bagaimana bisa pria seperti dia?
Sungguh batang hidungnya pun takkan pernah muncul!

Hei perempuan, pulanglah!
Kau terlalu indah untuk bodoh seperti ini!

Hei perempuan, pulanglah!
Tak layak bidadari sepertimu habis terkoyak dalam penantian tak berujung!
Hei perempuan, sungguh pulanglah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s