Mas Kriwul

Sudah tiga puisi berlabelkan ‘Mas Kriwul’. 

Mas Kriwul? Siapa? Sosok nyata apa hanya sekedar imajinasi?

Sabar-sabar…

Aku pun bingung harus memulai dari mana..

Ceritanya cukup panjang, sudah dari tahun dimana alm. mama Lauren meramalkan akan terjadinya kiamat. 

Semuanya dimulai dari hari pertama ospek, 12 juli 2012.


Suatu hari di bulan juli, aku sedang terpaku dilapangan rektorat ketika mataku langsung menangkap sesosok itu. Sesosok lelaki berkacamata dengan seragam badan eksekutif mahasiswanya, jeans, sneaker, serta kupluk abu-abu yang sepertinya kesayangannya, aku belum paham kalau rambutnya kriwul saat itu, kupluknya sempurna menyembunyikannya. 

Saat itu rasanya ajaib sekali, semua yang mengelilingi kami rasanya seperti jeda sesaat, dan semuanya kabur, lelaki itu menjadi titik fokus. Situasi itu bahkan masih tergambar jelas dimemoriku.

Ah tidak tidak, ini bukan cinta pada pandangan pertama. 

Sudah tidak ada lagi istilah itu bagiku, iya memang pernah, dulu sekali.

Bagaimana pula aku sempurna mencintai lelaki itu ketika aku bahkan tak mengenal namanya. 

Tuhan mendengar pikiranku, terukirlah jalan cerita ketika aku bahkan menulis namanya dalam surat. 

Tunggu tunggu…bukan surat cinta, aku tidak seagresif itu, yakin jatuh cinta saja tidak, ini surat yang lain. 

Sabar, nanti akan aku perjelas bagian surat ini. 

Aku persingkat, dia sesosok lelaki yang puitis, aku sempurna jatuh cinta pada tulisannya. Aku pertegas, aku jatuh cinta pada tulisannya, bukan dia. Terlebih karena ia menggunakan objek yang ku suka, yaitu hujan. Aku sering mengunjungi blognya, membaca tulisan-tulisannya dan tak jarang aku tersenyum sendiri bak orang gila. 

 


Hei mas, masih ingat surat ini?


Saat kami ditugasi untuk menuliskan surat untuk salah satu panitia, pikiranku langsung tertuju ke kamu mas, lelaki berkacamata yang pernah mencuri perhatianku, yang ternyata seniorku. Ah aku sempat takut ketahuan saat sadar aku lupa menutupi namamu dan begitu saja membiarkan suratku tergeletak di depanku, padahal panitia lain lalu lalang.


Kejutan, dari sekian surat yang kamu dapat, suratku yang menarik perhatianmu mas. Aku sempat senang dan menyesal mengapa tak ku tulis inisial atau sesuatu yang khas untuk identitasku. Tapi kurang lima menit, aku khawatir mas, khawatir karena kamu salah paham, begitu yang aku tangkap dari statusmu. Aku tidak benar-benar benci mas, aku iseng menulis seperti itu, tapi awalnya memang karena kamu tidak melirik aku yang sudah siap ditangkap kameramu dengan senyum paling manisku. Aku jadi batal menyesal soal identitas mas, khawatir kamu malah salah paham dengan bahasa suratku yang sesungguhnya iseng.


Hari-hari berlalu, aku kepo. Hasil kepoku adalah blogmu. Aku sempurna jatuh cinta pada tulisan-tulisanmu.

Aku, salah satu pengunjung blogmu yang begitu rajin! 🙂

 tentanghujan.blogspot.com

Lihatlah, aku bahkan menyimpan beberapa, untuk ku baca ulang ketika jaringan internet tak ada.

 

Juga karena buku puisi pertamamu sudah habis!Jadi aku membukukan sendiri untuk diriku sendiri.

 


Hari-hari berlalu, aku tetap menjadi pengagum rahasiamu. Menatap dari jauh, mencuri pandang, tapi jika mendekat, aku bak sudah dikomando, balik badan pergi. Aku bahkan menulis puisi ini mas:

 

Juga puisi yang ini mas:

 Ini karena foto profilmu dulu mas

Yang langsung menginspirasi puisiku yang satu ini :

Bahkan hanya siluetmu pun

Aku tahu itu kamu

Bahkan hanya siluetmu pun

Aku terlena

Tenggelam dalam moment

Menatapi siluetmu begitu dalam

Bahkan hanya siluetmu pun indah 

Bahkan hanya siluetmu pun

Aku merindu

Puisi-puisiku mungkin sedikit menggelikan, kan puisi mas, intinya kamu mas inspirasinya.


Mas, masih ingat ketika Tian memintamu membaca puisiku? Kamu sedang sibuk saat itu bahkan untuk berpaling menatapku tapi tidak membuatku manyun. Kamu misterius mas, tapi aku paham kalau kamu sosok yang hangat dan ramah. 


Hari-hari berlalu, aku masih pengaggum setiamu. Masih rajin membaca blogmu. Masih rajin melirik kanan kiri mencari kamu dengan tas super mencolokmu, tas oranye mu. Kadang hanya sesekali aku melihatmu, kadang setelah berminggu-minggu. Kadang aku bahkan mengoceh dalam hati, kamu kemana mas, kok jarang kelihatan. Kadang dengan teman perempuanmu, aku paham itu kekasihmu, tatapanmu beda mas, ah tidak, aku tidak cemburu.

Aku jatuh cinta pada tulisanmu kok mas.


Hari terus berlalu, tiba saat Dini muncul dihadapanku dengan buku yang tak asing bagiku, yang lama dinanti.

Buku kedua mu mas, yang lama ku nanti. Saat itu aku sedang menunggu kelas, aku bahkan segera berlari ke halaman, mencari-cari kamu mas. Detak jantungku sempat berdetak lebih cepat dari biasanya. Itu pertama kali kita saling berbicara satu sama lain mas, kamu bahkan menanyakan nama, jurusan dan tahun angkatanku dengan ramah, mencoba berbincang tapi aduh mas, aku sedang pecah fokus, hanya bisa menjawab singkat, aku sedikit menyesal mas. 


Kejutan!

kamu ingat namaku, mengucap terimakasih di akun media sosialmu sudah membeli bukumu.

Ah tapi kamu tak tahu nama akunku, tak mengapa, aku cukup senang. 🙂


Malam itu aku sedang bersama abang adit mas, abang adit baru gajian lantas mentraktirku mas. Kami sedang bercanda dan menikmati minuman hangat masing-masing hingga sms tian masuk mas.

Aku membeku, aku bahkan masih membeku ketika menulis bagian ini mas.

Mengambil jeda, menarik nafas.

Segera abang adit mengantarku kerumah tian mas, kami langsung berpelukan sejenak, tian menangis dalam pelukanku.

Malam itu aku tidak menangis mas.

Aku masih bingung.

Aku mecoba menenangkan tian. 


 

Pagi menyapa, aku terbangun bingung. Dadaku sesak mas, aku seketika menangis.

Yang aku tahan semalam akhirnya pecah, semakin pecah ketika ku baca bukumu.

Dialog dua: “Telah ku temukan jalan kembaliku”.


Baru seminggu setelah pertama kali aku berkenalan denganmu mas. Kamu bahkan menanyakan nomor hpku kata tian tapi belum sempat tersampaikan. Aku menyesali bagian itu mas, ah ketika kamu bahkan menanyakan nomor hpku mas, lantas aku paham, semuanya kehendak Tuhan mas.  


Mungkin sekarang kamu sudah paham tentang aku mas. Pengaggum rahasiamu. Yang bahkan berniat untuk datang di hari wisudamu untuk sekedar memberi mawar ucapan selamat atas wisudamu. Semoga kamu baik-baik disana mas. Aku akan tetap mengunjungi blogmu mas, terlebih tiap kali aku rindu. Malam inipun aku rindu kamu mas.

Fahmi Rachman Ibrahim






Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s