“Cewek”

“Cewek”

Siapa sangka kata itu malah terlontar dari dua bocah yang teramat imut, dua bocah berusia sekitar 5 tahunan, berdiri di depan kios bak pemuda-pemuda dewasa duduk-duduk di pos ronda menghabiskan malam.

Membuat kawan si gadis kecil gemas ingin mencubiti, beberapa langkah mendekati, teman si gadis kecil seolah ingin mencubit, mengisyaratkan kalau kata itu tak baik, terlebih tak pantas bagi bocah imut seperti mereka.

Si gadis kecil pun mengambil langkah kecil mendekati keduanya, dengan senyum paling manis andalannya ia berucap..

“Bilang Assallamu’allaikum adek sayang”

Mereka hanya tersenyum manis, sungguh manis.

“Ga boleh bilang cewek lagi ya. Bilangnya Assallamu’allaikum. Ayo coba dek, bilang apa?”

“Nah gitu dong. Bilang assallamu’allai….?”

Pinternya! Yaudah mbak permisi ya. Assallamu’allaikum. Da dah..”

Si gadis kecil lantas paham sesuatu malam ini, benarlah ucapan bahwa seorang anak kecil itu hanya mencontoh, mencontoh apa yang dilihat serta didengar, lantas jika mereka salah memang kewajiban para orang dewasa  untuk meluruskan, dan cara selalu penting, entah meluruskan atau malah semakin menjauhkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s