Pojok

Dari pojok ini, aku sesekali usil memperhatikan, beberapa pasangan. Entah apa status pasangan masing-masing, bisa jadi memang pacaran, atau bahkan tanpa status tapi ya saling paham, kalau secara tidak langsung mereka pacaran, intinya ada sesuatu yang spesial, entah ‘teman tapi mesra’ pun ‘hubungan tanpa status’ istilah gaulnya,  ah sudahlah, bukan urusanku.

Yang menarik adalah bahasa tubuh mereka, melalui bahasa tubuh ini aku paham kalau ada lelaki dan perempuan yang sedang duduk bersama hanyalah sebatas teman, tidak ada yang spesial, atau mungkin masih proses untuk ke tahap yang spesial.

Ku dapati beberapa bahasa tubuh seorang perempuan yang sedang  jatuh cinta,  kasmaran, berbunga-bunga  bahasa puitisnya. Kentara  sekali walaupun bagi seseorang yang tidak pernah mempelajari bahasa tubuh. Seperti  perempuan dibangku pada belokan sana, perempuan berbaju merah muda, yang duduk dengan tegak menghadap lelakinya,  kadang sesekali sedikit condong ke arah si lelaki, tatapannya sempurna  fokus, dengan kepala yang sedikit dimiringkan ketika ia tertawa, tertawa yang tetap anggun. Untuk perempuan ya ng yang berbaju merah disudut sana, aku cukup kenal, cukup familiar, sebatas paham karena sering mendapatinya duduk disekitar sini, tapi ini yang pertama ku dapati ia  tak duduk bersama teman-teman perempuannya, hari ini ia bersama  seorang lelaki, hanya berdua, perempuan itu tampak beda hari ini, terlihat  lebih ceria, rapi dari ujung kaki hingga ke atas, bahkan dengan bibir yang lebih merah dibanding yang lalu.

Bagi yang sepertinya memang memiliki status spesial antara satu sama lain, aku pikir tak perlu dijabarkan. Mereka mesra, dunia bak milik sendiri. Tentunya aku juga malas memperhatikan. Bisa bahaya, dikira aku orang ketiga, yang cemburu atas hubungan mereka lalu memata-matai dan pada waktu tertentu akan melabrak karena cemburu buta, ah sinetron sekali, aku bukan tipe pencemburu ekstrim.

Untuk yang tidak ada hubungan spesial, bahasa tubuhnya juga cukup jelas. Jarak duduk yang tidak begitu dekat, saling melirik yang juga jarang, sibuk pada aktifitas masing-masing, seperti sibuk dengan gadget, sibuk dengan tugas, tatapan mata yang biasa. Mungkin ada yang begitu karena sedang berantem, ngambek sama kesayangan, ah entahlah.

Sejatinya, aku bukanlah tipe yang suka memperhatikan kesibukan orang lain, hanya saja berada di pojok ini membuat aku menjadi sedikit usil  memperhatikan.  Memperhatikan beberapa pasangan, mengamati bahasa tubuh mereka. Manusia dan keunikannya selalu menarik bagiku. Seperti bagaimana bahasa tubuh tiap manusia bisa berbeda karena karakter, situasi dan sebagainya.

Dari pojok ini semua terlihat jelas,  lain kali sebaiknya aku tak duduk di pojokan ini lagi.

Iklan

9 thoughts on “Pojok

  1. Gara

    Dirimu pengamat yang baik, Kak :hehe. Kalau saya mah bakal sering duduk di pojokan itu, soalnya saya suka mengamati orang (baca: kepo :haha).
    Semua orang pasti ada kejutan dan ceritanya masing-masing. Mengamati bahasa tubuh mereka seperti membaca sinopsis novel kehidupan manusia itu: menarik, sehingga kita terus mengamati, atau membosankan, sehingga akhirnya kita abaikan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s