Perihal Lelaki dan Peka

“Emang ya laki-laki itu gak peka!”

Mendengar kata-kata itu tertohok lah semua lelaki di dunia. Otak lelaki jika ibarat aliran listrik mungkin akan seperti konslet. Jadi bingung gak karuan. Aku gak peka soal apa? terus aku harus gimana? kalau gitu kasih tahu aku eh kok malah diam? kenapa gak bunuh  gampar aja aku sekalian? 

Oke itu agak berlebihan. Tapi memang seringkali ketika lelaki dihadapkan dengan kalimat tersebut, otak mereka semacam benang kusut yang ruwet banget alias pusing karena mencoba menganalisa maksud si perempuan.

Maka oleh karenanya, dear perempuan, maafkanlah lelakimu kalau ia tidak peka, karena ia bukan perempuan. Ya terdengar klise memang, karena sering kali lelaki pun selalu membela diri dengan klaim mereka bukan perempuan. Tapi memang karena lelaki bukan perempuan yang lahir dengan anugerah kepekaan yang jauh lebih besar dari laki-laki hingga level baper luar biasa. So here’s the explanation..

Dalam sebuah buku mengenai analisa otak yang sayangnya saya lupa judulnya karena laptop saya kehilangan data, menjelaskan bagaimana perbedaan dasar otak lelaki dan perempuan. Salah satu contoh kasus dimana perempuan memang lebih perasa atau peka adalah percobaan ketika seorang ibu menampakan ekspresi sedih pada balita dengan kisaran umur dua tahun, ketika balita perempuan mengamati ekspresi wajah ibu, ia akan segera menangkap sinyal serta aura kesedihan sang ibu lebih cepat dibanding dengan balita laki-laki, sang balita yang awalnya sedang bermain mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu dengan berada di dekat ibunya bahkan memeluknya, sedangkan balita lelaki yang sedang bermain tetap melanjutkan kegiatan bermainnya. See? betapa anugerah kepekaan adalah mutak milik perempuan #eak.

Selanjutnya, dalam sebuah buku psikologi komunikasi hubungan oleh Dr. John Gray – Men are from Mars, Women are from Venus menjawab perihal ketidak-pekaan ini sederhana karena lelaki dan perempuan memiliki konsep dasar yang berbeda, seperti cara berkomunikasi. Dalam dunia perempuan yang dimana semua tentunya peka – dan diharapkan peka –memiliki kecendrungan komunikasi dimana semua saling peduli dan peka tanpa diminta, melihat teman perempuannya sedih, para perempuan akan langsung mendengarkan bahkan memancing yang bersangkutan untuk bercerita agar perasaannya lega (well, next time saya akan membahas kecendrungan kenapa perempuan suka curhat), ini adalah cara menunjukkan kami peduli, memberikan waktu untuk mendengarkan, menanggapi tanpa yang bersangkutan meminta, itulah dunia kami, kami suka menawarkan diri sebab kepekaan kami yang begitu tinggi.

Nah, di dunia lelaki, kecendrungan ini seringkali tidak berlaku sama sekali. Bagi lelaki, semua menghargai privasi masing-masing:

Saya tampak sedih tapi itu urusan saya kecuali saya memilih untuk berbagi dengan anda…

Karena lelaki di ajarkan sedari kecil untuk menyelesaikan urusannya sendiri, ini berkaitan dengan ego lelaki. Nah, karena semua punya privasi, itu kenapa lelaki tidak begitu membiasakan peka terhadap sesamanya seperti apakah dia ada masalah? apakah saya bisa membantu dia untuk menyelesaikan masalahnya? 

Hal ini membuat lelaki di anggap tidak peka karena cara berkomunikasi lelaki dan perempuan yang berbeda. Inginnya perempuan, lelaki akan paham cara berkomunikasi seperti di dunia perempuan yang saya jelaskan di atas tadi.

Alasan lainnya adalah cara lelaki mengakses informasi, lelaki menangkap lebih banyak pada kata secara literal atau apa yang terucap ketimbang makna tersiratnya lewat sinyal-sinyal ekspresi wajah dan nada bicara. Jadi kalau lelaki bertanya dan perempuan menjawab:

Aku gak apa-apa….

Ini akan di artikan secara literal oleh sang lelaki, dan sampai tahun depan manyunlah si perempuan dan akan selalu menjadi misteri bagi si lelaki. Eakk…

Kalaupun sang lelaki peka akan sinyal dan kode-kode ngambek perempuan, selanjutnya ia kan tetap bingung. Ia bingung karena akses informasi dari perempuannya adalah dia tidak apa-apa maka apa yang salah? lni bisa memicu kesalahpahaman lelaki, bahwa si perempuan tidak merasa bahagia dengannya, dan dia merasa tidak bisa membahagiakan si perempuan, dia merasa gagal. Parahnya, ketika si perempuan berkata….

Kamu mesti gak peka..kamu emang ga peduli sama perasaan aku!

Wah ini nih yang bisa beralamat perang dunia ketiga. Kenapa? lagi-lagi karena cara berkomunikasi laki-laki dan perempuan yang berbeda. Perempuan cenderung berekspresi lewat pilihan kata-kata yang general, menggunakan metafor, dsbnya. Contohnya…

Kamu gak pernah dengarin aku!

(Baca: Aku cuman lagi  sedih/frustasi  kamu kok gitu)

Ini membuat lelaki bingung…Selama ini buat kamu aku gak pernah dengarin kamu?  Gak pernah? 

Kamu gak sayang aku!

(Baca: Aku maunya kamu gak gitu)

Bingung lagi…Lha ini kan aku masih sama kamu kok bisa gak sayang? 😦 

Dan berbagai ungkapan lainnya dari perempuan yang sebenarnya adalah bentuk lain dari ungkapan-ungkapan kekesalan sementara tapi justru di salah artikan oleh lelaki karena di artikan secara literal dan ini bisa berujung si lelaki merasa serba salah, merasa usahanya selama ini sia-sia. Akhirnya, gantian si lelaki yang ngambek, perempuannya tambah bete karena lelakinya yang  justru ngambek. Terjadilah perang dunia ke tiga! Buuuuum!

Terus harus gimana? Dear lelaki, pahamilah perempuan dan cara berkomunikasi kami tadi, jangan cepat badmood pada ungkapan-ungkapan kekesalan kami. Gunakan bahasa yang lembut dan nada bicara yang lembut karena perempuan sensitif pada nada suara, bertanyalah pelan-pelan, minta penjelasan, ketika perempuanmu mengungkapkan kekesalannya, ia tidak sedang menyalahkan kamu atau merasa tidak bahagia dengan kamu, tidak, itulah perempuan, ia akan menyampaikan keluh kesahnya dan ingin merasa di dengarkan untuk meredakan emosinya.

Sebaliknya perempuan, gunakan kata-kata yang lebih spesifik, jelaskan pada ia pelan-pelan, sampaikan bahwa kamu sedang tidak menyalahkan dia, dan dia hanya perlu mendengarkan. Mudahkan ia dengan tidak menjawab tidak apa-apa jika hatimu aslinya kenapa-kenapa.

Anyway, salah satu kunci komunikasi yaitu mengganti kata aku  di awal ketimbang kata kamu. Fokus menyampaikan perasaanmu dan beritahukan cara untuk membuatmu merasa lebih baik ketimbang menyalahkan. Ini berlaku untuk siapapun.

Kamu mestiii lama kalau futsal sampai lupa udah janjian sama aku!

Aku sedih nungguin lama, lain kali tolong kabari  lebih awal kalau mau futsalan sayang, keluar nyari es yuk

Tidak mudah memang, tapi bisa di coba.

Sekian perihal lelaki dan peka. Sebelum catatan ini kelewat panjang dan ngebosenin!

Semoga ini bisa sedikit melegakan hatimu agar tidak baper kenapa dia tidak peka. Lagipula, perempuan kan mahluk dengan anugerah memahami, memahami untuk menenangkan hati sendiri. #Eak..

 


Menunggu lelaki peka itu ibarat nunggu hujan di gurun pasir.. 

– Koplakapluk.blogspot.com


Segala celoteh saya ini adalah hasil olahan dari bacaan dan pemikiran saya. Maka, ada baiknya di pelajari lebih dalam sendiri mengenai perihal ini karena saya juga masih mempelajari. 

 

 

Iklan

24 thoughts on “Perihal Lelaki dan Peka

  1. Nur Irawan

    ya itu memang sifat dasar cowok..
    mau gimana lagi masak harus nunggu hujan di padang pasir..
    ya kasih hujan buatan donk..
    mungkin dengan terbuka seperti pembahsan yang terakhir..
    kebanyakan wanita lebih banyak menggangap sosok cowok adalah peramal yang bisa melihat dan mengetahui isi hati tanpa harus bicara.. (iya kalo prof. Do min joon)
    dan kenyataannya anda menghadapi makhluk paling keras kepala didunia..
    bukan dengan batu untuk menghancurkan egonya..
    tapi dengan air yang yang dingin dan terus terusan..
    jika kamu sudah menikah pasti kau akan tau..
    ini adalah dinding awal yang harus dihancurkan saat sudah merrid
    capek ngetiknya.. huft… ^_^

    Disukai oleh 1 orang

    • Rissaid

      Aaakk kok kak Irawan tau Prof. Do Min Joon niiiiih?

      Iyasih, ego lelaki, katanya sih pakai sayang biar luluh #eak

      Well, berhubung belum tau rasanya nikah *kepikiran aj belum, sepertinya Insyallah nantii ^^

      Thankyouu kak 🙂

      Suka

  2. Rissaid

    Reblogged this on Rissaid and commented:

    Versi Revisi!

    Selain mengenai lelaki, ada perihal perempuan yang juga dapat diterapkan kepada cara berkomunikasi dengan Ibu, semisal Ibu kita kalau lagi ‘ngomel’ atau ‘marah’ dengarin aja dulu, gausah banyak dikomentarin. Seperti kalimat-kalimat Kakak mesti gak pernah dengerin mama atau adek mesti gak pernah bisa ngembaliin barang ke tempatnya kembali!

    Kata-kata itu gausah dimasukin hati, dengerin aja dulu, ntar reda sendiri yang penting jangan makin di sulut dengan di jawab balik. ♥

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s