Ironi

Duhai malam, ayo tertawa denganku. Mari kita tertawa atas ironi yang bececeran di kepalaku seusai logika memaksanya melihat kebenaran perihal realita mencintai yang akhirnya lepas dari dibutakan.

Ah aku sedang tidak memaki, tidak, sungguh tidak. Hanya bersuka cita atas hati yang walau tertatih-tatih tapi berusaha berjalan lagi, penuh luka sekujur tubuhnya, tapi harga diri memang harga mati, biar kata terseok-seok cinta di hati.

Mari nyalakan api unggunnya, tuang sirup manisnya, tak usah memabukkan diri malam ini dengan dalil patah hati, hati boleh patah, tapi jiwa harus seutuhnya waras, biar kalau ada yang datang dengan klaim cinta sepenuh hati, tak ada lagi tawa yang penuh ironi.

Iklan

7 thoughts on “Ironi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s