Perihal Mencintaimu

Terkadang, aku begitu jengah dengan egomu yang begitu batu. Kerap kali keras kepalamu membuat rumit banyak perihal. Bahkan perihal mencintaimu bisa menjadi begitu rumit sekali. Tapi adanya kamu memang memiliki bakat alami membuat orang mencintai, seperti aku yang di penghujung malam begini tak bisa memungkiri rasa kesalku tak jauh lebih besar dari rasa sayangku.

Mencintaimu semacam minum kopi, akan ada pahit yang ku jumpai di tiap kecup ujung cangkir, tapi membuatku candu untuk kembali. Pun mencintaimu semacam mendaki gunung, melelahkan untuk kemudian membuatku tak jera untuk kembali. Mencintaimu adalah kerumitan yang tetap saja membuatku bebal untuk tetap mencoba mengurai segala rumit yang ada. Mencintaimu adalah perihal aku ingin berada di sampingmu untuk tak membiarkan kamu jatuh tanpa bahu untuk bersender.

Mungkin, segala perihal mencintaimu yang rumit ini bisa begitu sederhana, jika saja egomu tidak lebih keras dari batu karang di tepi pantai. Perihal kamu mau membuka diri untuk disayangi. Tak adil jika kamu punya bakat alami untuk dicintai tapi tak mau membuka diri untuk di sayangi.

Tapi mungkin, jawab dari segala kerumitan mencintaimu ini bisa di sederhanakan lewat do’a-do’a di penghujung malam. Barangkali sekelumit do’a di malam hari sebelum lelap menyudahi malam adalah cara paling manjur untuk mencintaimu, meluluhkan kerasnya egomu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s