Mengagumi

Manusia dan kecendrungan mengagumi yang kadang terlampau unik. Terkadang, seorang anak manusia tak bisa menjelaskan penyebab sebuah kekaguman. Ia sederhana soal senyuman kakak tingkat di hari pertama perkuliahan, cara bermain gitar akustik seseorang dibalik layar tv, tatapan tigapuluh detik tanpa disengajai oleh seseorang, dan perihal mengagumi lainnya. Aku sendiri mudah mengagumi seseorang atas apa yang ia tulis. Aku suka bagaimana mendapati diriku menikmati sebuah tulisan dan merasa candu untuk membaca kelanjutannya. Tulisan ini bukan tanpa sebab, ada sekelumit senang ketika seorang mas Rivanlee, salah satu penulis blogger yang aku kagumi sempat mampir kesini, ia memang salah satu, tapi yang berada di nomor urut satu favoritku. Tentu saja ini perihal tulisannya yang membuat aku kagum, ada sesuatu tentang tulisan mas Rivan yang khas, dan tentang kecintaanya pada sastra klasik, pada Pramoedya Ananta Toer, ataupun Seno Gumira.

Begini, aku suka tulisannya, aku tak kenal ia dan tak berniat mengenal ia dan kehidupannya, tapi aku tertarik akan koleksi bukunya, seseorang yang pawai merajut kata hanyalah yang mau membaca. Seperti bagaimana aku mengaggumi alm. Mas Fahmi Ibrahim, ia menulis, terlebih tentang hujan. Ada satu kesamaan tentang keduanya, tentang bertele-tele yang asik, rasa melankolis dari bahasa sederhana yang tak biasa dan puitis. Bedanya, mas Rivan lebih mempengaruhi cara menulisku timbang mas Fahmi, seperti Tere Liye ataupun Djenar Maesa Ayu, sayangnya karena mengingat Ibuk, aku sungkan membagikan puisi-puisi yang sedikit bergaya Maesa.

Manusia dan perihal kekaguman. Betapa uniknya kekaguman mampu melahirkan sekelumit rindu, ya, aku rindu dengan tulisan Alm. mas Fahmi Ibrahim. Mas Fahmi yang suka menulis tentang hujan, entah karena ia menyukai tiap butir tetes hujan yang membasahi rambut kriwilnya atau diam-diam tentang seorang perempuan, barangkali asumsiku betul, kadang lelaki punya kecendrungan mengaburkan sebuah tulisan yang sederhana soal perasaan dengan kepiwaian merantai kata lewat konsep yang lain atas seorang perempuan. Entah mas Rivan juga begitu, tapi aku tak pernah benar-benar ingin tahu, aku hanya pembaca yang candu, seperti bagaimana aku selalu meluangkan waktu untuk sekedar membuka blognya menanti sesuatu yang baru, bedanya, belakangan ini aku mulai sadar bahwanya blog mas Fahmi hanyalah tempat untuk bernostalgia bagi yang mencintai dan merindukan ia.

Betapa luar biasa sebuah tulisan mampu mempengaruhi dan memberikan rasa bagi anak manusia. Aku pikir aku akan sama bahagianya jika ada seseorang diluar sana yang menyayangiku atas puisi-puisi yang walau kadang kelebihan melankolis. Seorang pengagum yang sebagaimana aku mengagumi mas Rivan pun alm. Mas Fahmi sebagai blogger yang mampu memberikan candu akan sebuah tulisan. Tapi aku hanya jatuh cinta pada tulisannya, bukan sosok keduanya.

Perempuan punya kecendrungan mencintai lelaki yang membuatnya tertawa, seorang teman pernah berkata begitu. Aku jatuh cinta atas usahamu membuatku tertawa dan menjaga. Walau kamu tak biasa bicara soal perasaan terlebih menuliskan sebuah puisi untukku, cukup tuliskan namaku dihatimu. Tidak mengapa pula jika kamu tak ingat tanggal lahirku atau tanggal hari dimana aku sepakat atas kamu dan aku sama-sama berusaha untuk menjadi kita, aku lebih suka kamu yang ingat dan mengingatkan aku untuk berhati-hati makan yang pedas.

Iklan

2 thoughts on “Mengagumi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s