Terjebak Nostalgia (Sampai Kapan?)

Barangkali yang menyusahkan dari sebuah perpisahan adalah terjebak dalam nostalgia. Ia membuat logika berada pada titik blur, entah rasa masih mengendap di dada atau sekedar terjebak nostalgia, hingga tanpa sadar menolak realita.

Tapi hidup berputar, membawa kenangan bisa jadi dua perihal,  ia membahagiakan atau memberatkan. Ia memberatkan sebab kepala akan penuh dengan segala macam pertanyaan dan perandaian jika saja jalan cerita tidak berujung pada sebuah perpisahan, andai saja begini dan begitu. Sedang berandai-andai semacam meragukan ketentuan Tuhan atau serupa menolak maju jalan sedang masa lalu adalah cerita yang sudah tak dapat di ganggu gugat, semacam lakon yang sudah tidak dapat diperankan lagi, lantas mau apa?


Memang perihal perasaan bukan semacam membuang bungkusan nasi ke tong sampah lalu tinggal cuci tangan. Terlebih dengan segala kenangan, dan terjebak nostalgia. Ia kerap lalu lalang di pikiran, mengusik, menyesakkan dada.

Begitupula yang sedang aku rasakan,  sebuah usaha adalah dengan menghapus segala perihal tentang kita di ponsel lamaku, menghapus jejakmu.
Tapi tetap saja kepalaku riuh dengan segala kenangan.

Tapi sampai kapan ingin terjebak nostalgia, sedang hidup adalah perputaran. Seorang anak manusia harus mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, melepaskan kenangan, melegakan segala yang memberatkan.

Iklan

15 thoughts on “Terjebak Nostalgia (Sampai Kapan?)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s