Terjebak Nostalgia

image

Kamu bagiku adalah sekelumit perasaan yang serius ku tempatkan di hati bersama segala harap akan kita.

Aku memang memilih pergi, tapi segala tentang kita masih tersimpan rapi di ponsel lamaku. Pesan singkatmu masih disana, bahkan sebelum panggilan sayangmu untukku, sedari masa aku masih belum mempercayaimu sedang kamu sudah bertanya soal perasaanku. Segala tentang kita masih disana, dan setiap cerita tentang kita tersimpan dalam setiap foto dan gambar yang ada, aku masih ingat foto pertama yang kamu kirimi, foto bunga mawar merah yang ku katai klasik sebagai cara menggoda.

Segala tentang kita masih sepenuhnya terekam di memori, sedari pertemuan pertama kita di rumah sakit, kamu sekedar tau namaku,  aku bertanya-tanya dikepala siapa dirimu. Aku masih ingat kala itu,  kamu dengan baju hitammu, dan celana pendek selutut. Aku masih ingat pula hari berserta tanggal pertama kali kamu datang untuk menemui aku, aku ingat setiap detailnya,  sedari warna kaos yang kamu kenakan, pembicaraan kita terlebih momen sulap ala kamu dengan bungkus rokokmu, aku bahkan menolak peka dengan realita bahwa kamu perokok.

Aku masih ingat semua,  dan harus aku akui, aku tidak pernah seterlena ini perihal perasaanku pada seorang lelaki. Ada banyak hal yang aku lakukan hanya denganmu. Aku tidak pernah membalas pesan secepat aku membalas pesanmu, begitupula dengan mengangkat teleponmu.  Denganmu, aku tidak membenci intensitas, aku selalu suka tiap kali namamu muncul dilayar hpku, adikku bahkan tertawa melihat aku yang segera berlari ke kamar hanya untuk mengangkat teleponmu dengan riang. Hanya denganmu aku sebegitu terbuka tentang sisi manjaku,  bertingkah seperti anak kecil tiap kali aku rindu kamu,  aku bahkan jujur perihal aku merindukan kamu, aku yang sebelumnya adalah aku yang penuh dengan sekelumit gengsi, rasanya  janggal untuk sekedar berucap rindu,  bahkan meminta waktu. Begitupula dengan cemberut, hanya denganmu aku usil berlagak cemberut hanya untuk mendengar kamu membujuki,  tapi aku memang tidak pernah bisa benar-benar cemberut denganmu, serupa es batu yang diletakkan dekat tungku pemanas,  aku seketika luluh tiap kali mendengar tawamu.

Ada banyak hal yang aku sukai tentang kamu,  atau lebih tepatnya aku suka segala perihal tentang kamu.  Aku suka bagaimana kamu suka usil tiap kali aku cemburu,  aku hanya tau cemburu denganmu, pun jujur bahwanya aku cemburu,  aku bahkan cemburu untuk hal sepele, aku sadar aku bertingkah konyol tapi tidak bisa dipungkiri bahwanya aku memang cemburu. Aku suka tiap kamu bercerita,  tentang apa saja,  sebab disitu aku bisa mendengar suaramu, terlebih gelak tawamu. Aku bahkan menyukai hal yang dulunya aku anggap konyol,  tidak mematikan telepon seperti permintaanmu yang akhirnya menjadi kebiasaan yang ku sukai, walau yang ku dengar hanya nafasmu sebab kamu sudah terlelap pun sebaliknya. Aku suka dengan caramu yang kadang kekanakan tiap kali ingin berbaikan denganku, kamu akan pura-pura salah atau tidak sengaja menghubungi aku, dan hanya ketika aku sudah malas atau terdengar cemberut, barulah kamu tiba-tiba berucap sayang padaku atau tiba-tiba mengirim sesuatu yang lucu padaku. Aku suka tiap kali kamu menghubungi aku walau masih pagi buta dan aku pulas terlelap, aku nyaman mendengar serau suara bangun tidurmu, hanya dengamu aku mau memotong waktu tidurku, pun memberi nada dering khusus agar ponselku tetap berdering jika kamu yang menghubungi selain nomor ayah, ibu, dan adikku. Pun ketika kamu sekedar pamitan untuk berangkat kerja, dan sebaliknya mengabari sudah dirumah. Aku suka menit-menit singkat yang kita habiskan di sela-sela kesibukannmu atau sekedar pamitan ketika kamu hendak kemana, tak perlu berjam-jam, cukup beberapa kali yang mewakili bahwanya kamu memikirkan aku di sela kesibukanmu. Aku suka ketika kamu kadang bertingkah seperti anak kecil ketika merindukan aku. Aku suka mendapati kotak pesan sosial mediaku yang penuh dengan link hal-hal lucu, aku suka mendapati kamu mengingat aku walau sedang sibuk dengan waktu sendirimu. Aku suka ketika kita mulai membicarakan tentang harap-harap akan kita dimasa depan.  Hanya dengamu,  aku mau membicarakan masa depan.

Aku pun serius bahwanya aku menginginkan kita di masa depan.  Aku bahagia ketika berbicara dengan ibumu, dan hanya dengan ibumu aku tidak tahu harus berbicara apa,  aku kehabisan kata-kata,  pipiku panas,  aku salah tingkah. Aku merasa bodoh dan sempat menangis kecil sebab aku merasa konyol, sejam sebelum berbicara dengan ibumu,  aku bahkan sudah berpikir banyak hal tentang perihal apa yang harus aku bicarakan, aku bahkan membaca-baca untuk sekedar tahu tentang jurusan kuliah ibumu dulu, tapi kamu dengan usilnya mengganggu pembicaraan kami,  memecah fokusku,  adikmu dan aku kemudian menertawai kekonyolanku.

Aku sungguh suka segala perihal tentang kamu,  dan sungguh kamu yang bisa membuat aku tertawa lepas. Pun hanya dengan kamu aku bisa sebegitu terjebak nostalgia begini, dan barangkali segenap rasa tentangmu memang masih mengendap di dada walau setelah semua kekecewaan yang ada.

Tapi ini melelahkan, terjebak nostalgia. 

Snapchat-7508184152004978762_1458854729628

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s