Kita Yang Usai

Betapa hidup terkadang adalah sinopsis yang abu-abu, aku tak tahu kelanjutan cerita perjalanan yang ada di depan. Atas apa yang akan tiba dan disuguhkan. Seperti bagaimana aku dan kamu tiba-tiba menjadi kita yang lantas aku harapkan tetap terjaga untuk kemudian menjadi sesuatu yang aku pertanyakan.

Pikiranku tak hanya berisi satu pun dua perihal, banyak perihal tentang kamu dan kita yang masih mengganjal. Aku masih mengira-ngira arti pertemuan kita, empatbelas febuari dua ribu empatbelas. Seolah klasik memang, tapi adanya aku memang masih mengingat awal pertemuan kita, ketidaksengajaan yang kemudian menjadi sekelumit rasa yang masih mengendap di dada. Barangkali bagimu, dua tahun yang lalu adalah awal mulai cerita, sedang aku penikmat senyummu sejak masa putih abu, tapi aku paham pantang menjadi orang ketiga.

Adalah ketidaksengajaan atas pertemuan kita, awal dari sekelumit rasa dan catatan ini. Aku jatuh pada titik senyummu, untuk kemudian mengagumi kesederhanaan dan kedewasaanmu, tentang kamu yang berjuang untuk menjadi sosok yang lebih baik dan membangun masa depan dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan, tentang sopan santun yang meluluhkan, aku suka bagaimana obrolan kita bukan sekedar ucapan cinta, bagaimana aku belajar banyak hal darimu.

Hingga aku mulai merangkai banyak rencana di kepalaku, tentang mimpi-mimpi kita, tentang aku dan kamu sama-sama ingin berjuang untuk sama-sama saling membahagiakan dengan kehidupan yang lebih baik bersama keluarga. Tentang aku dan kamu bertekad mengelilingi dunia bersama kecintaanmu atas seni dan sastra.

Sebab apa yang kamu suguhkan adalah kepingan-kepingan harap yang aku simpan. Seperti ketika kamu datang untuk membantu ibu di rumah, pun sederhana memperhatikan aku dengan segelas jamu. Tentang caramu mencintai aku yang membuat hatiku riuh mengharap kita adalah sesuatu yang akan selalu terjaga.

Sayangnya realita adalah kekecewaan yang menyisakan aku dengan ketidakpastian, bertanya-tanya atas realita dan sekelumit janji di antara kita. Aku dan kamu tiba-tiba sudah berada dipersimpangan yang berbeda, kita bahkan tak saling berbalas sapa.

Hanya saja, esok adalah hari ulangtahunmu, dan aku masih perempuan yang menyayangimu. Aku masih perempuan yang mengharapkan yang terbaik bagimu, walau dengan tanpa aku disampingmu pun kita tak bersisa.

“Selamat ulangtahun…..”

*Catatan rasa seorang teman

Iklan

11 thoughts on “Kita Yang Usai

    • Rissaid

      “Nevermind, I’ll find someone like you.
      I wish nothing but the best, for you too.
      Don’t forget me, I beg, I remember you said
      Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead”

      :((((

      Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s