Mata, Tatapan dan Rasa.

Beberapa mengatakan bahwa mata tidak bisa bohong, akan tampak pada mata seseorang ketika dia berbohong. Tetapi, sebagian lainnya mengatakan hal sebaliknya, bahwa mata merupakan senjata mematikan untuk menipu seseorang, dengan tatapan tulus, sendu yang sengaja terciptakan untuk menyembunyikan sesuatu.

Namun, pada tatapanmu aku tak pernah bisa melihat sesuatu. Entah itu kebohongan ataupun ketulusan, mungkin karena memang tidak ada kebohongan maupun ketulusan? tapi ke-tidak-tulusan juga tak tampak dimatamu.

Tetapi, bisa jadi aku lah yang tak pandai melihat sesuatu pada sebuah tatapan atau karena itu kamu? dan memang aku tak ingin tau arti tatapanmu, karena yang terukir dibenak ku kau sosok yang tulus.


Ternyata begitu banyak kebohongan tersimpan dibalik tatapanmu itu, namun itu tak pernah terlihat apa karena kau ahli atau aku yang tak mampu melihatnya? kemungkinan lainnya, karena aku begitu percaya sehingga tatapanmu selalu ku artikan tatapan kasih?

Jika pertanyaan yang terakhir merupakan jawaban, pertanyaan lain muncul di benakku. Apa yang membuat aku begitu percaya padamu? Terukirnya di benakku bahwa kau sosok yang tulus? Percaya bahwa jauh di lubuk hatimu kau adalah sosok yang begitu baik, tulus walau setelah semua kebohonganmu yang ku coba logika kan adalah kau begitu jahat.

Aku bahkan membenci diriku sendiri karena seharusnya ketika semua hal tentangmu yang ku logika kan adalah kau begitu jahat, mengapa aku masih percaya kau sosok yang baik. Aku sedih, kecewa tapi puncak dari semuanya masih tak mampu membuat ku berhenti percaya kau sosok yang baik dan membencimu.


Banyaknya kebohongan yang tak terlihat, sekian kali aku tertipu memunculkan keraguan, apakah kau benar-benar tulus? Tetapi, mengapa pula aku begitu mempertanyakan ketulusanmu? Apa secara sadar maupun tidak, aku berharap kau tulus? Lantas apa yang membuatku berharap?

Aku takut. Mungkin secara sadar maupun tidak, semua ini hanya merupakan insting mu sebagai pria, untuk tetap bisa memiliki, menaklukan.



Rasanya aku sudah begitu lelah untuk kembali mengukir romansa denganmu.  Namun, pergi dan mencampakanmu juga tak mampu terukir di benak ku.

Aku mencoba tulus memaafkan untuk menciptakan ketenangan di hatiku dan mengontrol diriku sendiri agar tak ada lagi hasrat akan romansa denganmu hanya karena keterjebakanku akan harapan yang ditimbulkan oleh komunikasi, tatapan yang selalu ku salah artikan tatapan kasih, kata-kata dengan suara khas-mu, senyuman syadu-mu.

Aku tak ingin lagi kecewa dan sedih akibat di permainkan oleh perasaan ku sendiri. Karena kemungkinan lainnya adalah semua ini hanya perasaan ku saja.


Tulisan lama; 15 Agustus 2013. Tulisan baper yang bikin ketawa.

Iklan

4 thoughts on “Mata, Tatapan dan Rasa.

  1. Ismail Hasan

    ada yang bilang, expectation is the root of all heartache.. haha
    Tapi jadi perempuan juga harus punya sikap lho. Bahwa penghormatan dan pemuliaan hanya pantas diberikan untuk dia yang memang pantas menerimanya. Halah, apasih 😆

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s