Mata

Kedua bola matamu sayang, tempat aku jatuh sejatuh-jatuhnya, memeluk cinta dengan dekap begitu erat. Kedua bola matamu pula sayang yang kemudian melukai aku sedalam-dalamnya. Hingga detik ini, tatap dari matamu seumpama palu yang memukuli dada, ada sesak dan secuil perasaan aneh, barangkali luka yang ku kira sudah tak ada. Barangkali pula, kedua bola matamu akan tetap menjadi muara perasaan aneh yang kerap menyesakkan dada, entah kapan hilang, toh kamu memang pernah begitu ku cinta, benar-benar cinta. Biar waktu yang menjawab, aku tahu secuil rasa ini tak mungkin abadi, seperti bagaimana kita tiba pada mutlaknya perpisahan.

Iklan

11 thoughts on “Mata

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s