Multitasking dan Manajemen Level Seorang Ibu

Selama merantau, ada beberapa hal yang saya sadari. Salah satunya adalah level multitasking dan manajemen seorang ibu yang tidak bisa disama ratakan karena semata-mata beliau adalah perempuan. Seorang perempuan memang terkadang lebih pandai dalam multitasking dan mengingat banyak hal hingga tanggal-tanggal pertemuan yang bagi kaum adam tidak begitu penting.

Seperti bagaimana  teman-teman perempuan saya seringkali bercerita perihal kekasihnya yang kurang mampu mengingat tanggal-tanggal yang bagi mereka adalah penting, seperti tanggal mereka bertemu pertamakalinya, dsbnya. Mark Gungor dalam teorinya mengatakan bahwa otak lelaki dan perempuan memang memiliki perbedaan, dan otak perempuan seumpama kabel-kabel yang saling terhubung satu sama lain yang terhubung kan oleh emosi pun perasaan, perihal inilah yang menjadi alasan mengapa perempuan terkesan melankolis, sebab mengingat hingga detail warna baju kencan pertama.

Tapi berbicara tentang ibu, saya percaya bahwa level multitasking dan manajemen seorang ibu berada pada level yang berbeda dari sekedar perempuan. Saya sering dibuat kagum dan haru oleh ibu, bagaimana beliau menghubungi saya dari jauh untuk memastikan persiapan saya sebelum seminar proposal, seminar hasil, pun sebelum saya berpergian jauh, mengingatkan saya untuk membayar sewa kamar, mengingatkan saya akan banyak hal, bahkan jauh lebih hafal jadwal kuliah saya awal-awal semester satu dulu pada sela-sela kesibukan kantornya. Beliau menyempatkan setiap paginya untuk sekedar mengirimi pesan singkat untuk menyamangati saya sebelum ujian, walau sekedar ujian tengah semester. Saya pun yakin, pesan singkat yang ayah saya kirimkan adalah karena dingatkan ibu. Ibu mengingat banyak hal tentang keperluan-keperluan saya, beliau juga mengingat keperluan ayah dan adik saya, pekerjaanya, dsbnya.

Lalu, kapan waktu saya iseng memperhatikan, seorang ibu yang harus menggendong anaknya yang masih balita sembari berkerja lalu menjawab panggilan yang sepertinya adalah suaminya yang menanyakan tentang benda yang lupa ia letakkan. Hal ini sempat membuat saya tersenyum sendiri, menimang-nimang perihal menikah muda, akan sesibuk itukah saya, mengurusi anak, keluarga, terlebih jika ditambah bekerja. Semacam bertanya-tanya perihal kemampuan saya dalam memanajemen semua dan melakukan beberapa hal sekaligus bersamaan.

Seperti bagaimana ibu saya  mampu berbicara ditelepon dengan saya sambil mengerjakan laporan kantor, dan sambil bercanda pula dengan ayah, dan sambil menjawab pertanyaan mbak saya, ditambah sambil menonton tv. Saya percaya kemampuan multitasking dan manajemen pada level berbeda ini lahir ketika seorang perempuan menjadi seorang ibu, sebab ia seumpama penyeimbang dalam keluarga, menjadi seorang istri dan ibu dalam waktu yang bersamaan, luarbiasa.

Iklan

12 thoughts on “Multitasking dan Manajemen Level Seorang Ibu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s