Akhir Sebuah Jeda — Catatan Bu Dyah

Setiap hati yang patah selalu butuh jeda, tak perlu tergesa-gesa mengganti cinta di dada ~ Rissaid.


 

“Ras, aku ada tugas buat kamu,” kata Mas Ardi sambil meletakkan sebentuk amplop ke mejaku.

“Tugas apa, Mas?” ku ambil amplop itu dan kubuka. Ternyata berisi undangan ngabuburit sebuah komunitas.

“Kamu wakili radio ke acara itu,” Mas Ardi menarik kursi lalu duduk di dekatku. “Terus, sekalian aja kamu liput acaranya. Lumayan kan, bisa ketemu artis?”

“Emang ada artisnya?”

“Baca dong, Bu, undangannya! Jangan buru-buru dijadiin kipas!” Mas Ardi geleng kepala. Aku memang paling malas kalau disuruh baca. Jika saja penyiar radio sepertiku tidak harus punya wawasan luas dan harus bisa bikin script sendiri, aku pasti bakalan makin malas baca.

“Iya deh, nanti saya baca lagi. Tapi, kenapa bukan Mas aja yang datang?” tanyaku. Biasanya reporter senior sekaligus produserku itu paling rajin menghadiri undangan. ‘Kewajiban setiap muslim,’ begitu katanya.

“Nanti sore aku ada undangan lain. Terus habis itu, ada janji mau tarawih bareng camer,” katanya tersipu.

“Waah, camer, Mas?! Selamat ya, akhirnya laku juga!” Seruku spontan. Biar saja, studio masih sepi.

“Hiiisss! Jangan TOA begitu dong suaranya! Manyupanakan aku haja!“ Mas Ardi mendelik. “Hehe, tapi makasih ya. Aku juga bersyukur kok, udah ada yang mau sama bujang lapuk macam aku.”

“Alah Mas, kalau bujang lapuknya macam Mas Ardi, Laras juga mau kok. Eh…,” aku menatapnya usil. “By the way, ketemu di mana, Mas? Teman kuliah?” kepoku kumat.

“Bukan. Ada seorang kenalan Ayah pengen jodohin aku sama putrinya. Ya udah, kenapa nggak dijajaki dulu?”

“Pasti cantik deh si mbak ini?” kepo lagi. Aku sangat tahu selera Mas Ardi.

“Jujur saja, aku baru mau ketemu dia malam ini selepas tarawih. Ayahnya bilang, kami akan ketemuan di masjid Sabilal. Entahlah, aku khawatir sama diriku sendiri. Takut nggak cocok di awalnya. Aku juga khawatir, setelah melihat lelaki uzur ini dia terus kabur,” wajah Mas Ardi menguyu.

“Tenang, Mas. Belum juga ketemu. Jangan pesimis dulu. Laras yakin, kalau si mbak ini lihat Mas Ardi, pasti langsung melting. Apalagi kalau dengar suara Mas Ardi ngomong.”

“Kamu bisa aja. Ya udah, aku tinggal dulu ya? Ada janji sama Boss. Kamu kerja yang bener nanti sore!”

“Mas Ardi tenang aja. Ntar sore, Laras bakalan kasih repotase terbaik buat BB FM, OK?”

“OK. Aku percaya kamu ya, Ras. Ya udah aku mau meeting dulu, ya. Yuk, assalamualaikum!”

“Wa’alaikumussalam. Hati-hati, Mas!” Teriakku yang dijawab dengan anggukan dan acungan jempol.

Setelah Mas Ardi pergi, aku kembali membaca kalimat demi kalimat dalam undangan itu. Sebuah acara bertajuk Ngabuburit Bareng Pak Wali, yang akan digelar nanti sore di Menara Pandang Siring Martapura. Acara itu juga menghadirkan ustadz kondang dari ibu kota dan sebuah band baru yang sedang naik daun.

Tapi saat aku memperhatikan personel band itu satu per satu, aku melihat sosok yang begitu akrab di ingatanku. Tapi, apa iya?

***

Acara yang seru. Dialog dengan Pak Walikota berlangsung hangat dan akrab. Walikota baru yang ramah dan bersahaja ini menjawab semua pertanyaan dengan gaya yang santai namun tetap serius. Sementara ustadz kondang dari ibu kota juga menyampaikan materi yang kekinian, dan lekat dengan kehidupan masyarakat terutama anak-anak muda yang menjadi anggota komunitas itu.

Tapi saat grup band yang bernama  Jejaring ini tampil, aku justru jadi kehilangan fokus. Apalagi, saat aku melihat wajah vokalis band itu. Jantungku mendadak berdegup sangat kencang. Dadaku terasa sesak, seolah ribuan kelelawar saling berdesakan ingin keluar dari sana. Simpul-simpul ingatan yang sudah kuikat rapat mendadak terurai, dan melemparkan aku ke suatu saat. Saat yang menyakitkan

***

“Kita putus!” kata Danar malam itu.

“Putus? Kenapa?” aku menatapnya tak paham.

“Kita nggak cocok lagi.”

“Semudah itu? Lalu kemana semua yang pernah kita alami, Nar? Kita pernah lewati pahit manis bersama, sampai aku dapat kepercayaan Bunda untuk jalan sama kamu. Itu semua nggak mudah, Nar!”

“Tapi aku nggak mungkin sama kamu terus. Aku harus kembangkan karir bermusikku. Dan kamu, rasanya kamu hanya akan jadi penghalang.”

“Kok kamu bisa setega itu bicara? Apa aku pernah menghalangi karirmu? Saat kamu sibuk dengan rekaman di studio, apa aku pernah mengganggumu? Bahkan ketika kamu mulai lupa semua hari penting kita, apa aku pernah protes? Nggak kan? Lalu, kenapa?!” nadaku mulai meninggi. Aku tidak terima Danar memutuskan hubungan kami begitu saja.

“Karena…,” tekanan suara Danar mulai berkurang, “karena aku nggak cinta kamu lagi.”

Sejenak aku tidak tahu harus bicara apa. Napasku sesak seketika. Tapi sekuat tenaga aku menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun ini.

“Beri satu alasan. Atau, beri tahu aku salahku apa, sehingga cinta di hatimu memudar?”

“Kamu nggak salah, tapi…

“Hai, Nar!” Belum selesai Danar bicara, datang Jingga dan langsung memeluk Danar. Tepat di depan hidungku.

“Kamu nggak perlu jelaskan apa-apa lagi, Nar. Aku sudah sangat paham semuanya. Semoga kamu sukses dengan karir kamu. Permisi.”

Aku meninggalkan mereka berdua. Hatiku hancur. Jingga, ternyata ada di balik semua ini. Ternyata desas-desus yang selam ini kudengar itu benar. Desas-desus tentang perselingkuhan Danar dengan backing vocal-nya, yang sesunguhnya tak ingin kupercayai.

Tapi nampaknya aku memang harus percaya, bahwa antara aku dan Danar, semua sudah berakhir.

***

Tepuk tangan bergemuruh menyadarkanku dari lamunan. Ternyata, grup band itu sudah selesai tampil. Para personelnya pun sudah turun panggung dan digantikan oleh MC yang sedang mengelar games untuk para undangan.

Perlahan aku menepi dari kerumunan peserta ngabuburit. Menepi untuk memberikan reportase singkat tentang acara ngabuburit ini ke studio. Tidak banyak yang bisa kulaporkan dan jujur saja ini bukan reportase yang kuinginkan. Yang jelas, aku harus siap menerima hukuman dari Mas Ardi karena reportase yang gagal ini.

“Ras…,” tepukan di bahuku membuatku terperanjat. Lalu saat aku menoleh, kudapati Danar tengah menatapku. Tatapannya sulit kuterjemahkan. Yang jelas, dia tetap menawan seperti bertahun-tahun lalu.

“Hai, Nar! Apa kabar? Mana Jingga?” aku berusaha bersikap sangat biasa. Padahal di hatiku sedang ada gempa.

“Aku baik, Ras. Jingga? Jingga sudah jadi masa lalu. Di nggak seperti kamu Ras,” katanya kelu.

“Nggak seperti aku? Maksudnya, nggak seperti aku yang mudah dibodohi?” Entah darimana datangnya, kalimat itu meluncur begitu saja. Amarah itu mendadak bangkit lagi.

“Bukan begitu, Ras. Maksudku, dia nggak se-pengertian kamu, dia terlalu egois. Bahkan, dia sudah tidak jadi backing vocal lagi.”

“Ya sudah, nggak ada yang perlu kamu sesali, Nar. Nanti juga akan ketemu lagi yang bisa sejalan dan ngertiin kamu juga karir kamu.” Aku mencoba menghiburnya.

“Bagaimana dengan kamu, Ras? Apa kita masih bisa…?”

“Maaf, Nar. Kosong hatiku sudah ada yang mengisi. Jadi, kita tidak mungkin sama-sama lagi,” aku memotong kalimatnya cepat. Bulan puasa harusnya nggak boleh kunodai dengan kebohongan. Tapi terpaksa. Aku hanya tidak mau terlibat lagi dengan pesohor bernama Danar Raharja ini.

“Oh,” hanya itu yang kemudian diucapkan Danar. Aku sendiri pun memilih diam. Apalagi kemudian terdengar sirine dari arah masjid Sabilal Muhtadin, pertanda beberapa detik lagi adzan maghrib akan berkumandang. Segera saja kubereskan peralatan reportaseku, berpamitan pada panitia dan meluncur dengan motor matic-ku kembali ke studio.

Maafkan aku, Nar, aku hanya tidak mau mengulang cerita lama.

***

Sholat tarawih ternikmat. Setidaknya, itu yang kurasakan. Sepanjang hampir dua minggu menjalani sholat tarawih, aku merasa ini sholat ternikmat yang pernah kukerjakan. Terlalu nikmat hingga aku enggan meninggalkan masjid seusai sholat witir. Kalau saja Bunda tidak mecolek lenganku dan mengajakku keluar, aku masih ingin berlama-lama di dalam masjid. Apalagi, di luar pasti masih sangat ramai orang keluar dari area parkir.

“Ayah menunggu kita di teras belakang masjid, dekat lapangan,” bisik Bunda sambil menunjukkan pesan Whatsapp dari Ayah.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah, mengekor langkah Bunda dengan malas. Padahal kalau mau, bisa saja Bunda dan Ayah pulang duluan. Kami memang tidak berangkat bersama-sama. Aku langsung dari studio, sedangkan Bunda dan Ayah berangkat dari rumah. Tapi entahlah, mereka ngotot banget ingin aku berkumpul di teras belakang masjid.

“Ada apa sih, Yah? Laras capek nih, pengen cepet pulang,” kataku setelah ada di dekat ayah. Kami duduk lesehan di teras belakang, diatara lalu lalang orang yang keluar dari masjid. Memandang ke arah parkiran yang masih ramai, dengan sebagian jamaah terlihat mengantri di pintu keluar parkiran.

“Ada yang pengen ketemu kamu,” kata ayah tenang sambil melihat kesana-kemari seperti mencari seseorang.

“Siapa?”

“Jadi begini, sebelumnya Ayah minta maaf. Ayah… Ayah berencana menjodohkanmu dengan seseorang. Dia putra kenalan ayah,” terlihat sekali penyesalan di wajah Ayah. Tapi aku tidak protes, aku menghargainya sebagai bentuk kepeduliannya padaku, putriya yang jomblo akut ini.

“Ganteng nggak, yah”? Aku bersandar di bahu Ayah, berusaha menghilangkan keterkejutanku dengan bercanda. Bagaimanapun, dijodohkan tidak ada dalam daftar mimpi-mimpiku.

“Ganteng, sholeh dan mapan,” kata ayah lagi, sementara aku hanya mengangguk-angguk.

“Assalamualaikum, Pak Yahya…!” Suara berat itu membuatku menegakkan kepalaku. Seorang pria yang kutaksir seusia Ayah, nampak berjalan mendekati kami. Kulihat Ayah berdiri dan menyambutnya. Hangat.

“Waalaikumussalam. Silakan, Pak Yudi! Maaf, hanya bisa di sini, lesehan,” kata Ayah pada pria yang dipanggilnya Pak Yudi itu. Sementara lelaki muda yang ada di belakangnya hanya tersenyum dan mengikuti Pak Yudi duduk di depan Ayah.

Tapi, bukankah itu…

“Mas Ardi?! Kok…?” aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.

“Laras?”! Mas Ardi pun tak kalah terkejut.

“Iya. Katanya mau tarawih sama camer, kok malah di sini?”

“Lha ini, Pak Yahya…,” Mas Ardi memandang Ayah sekilas lalu kembali menatapku. Jangan-jangan…

“Kalian sudah saling kenal?” tanya pak Yudi pada Mas Ardi.

“Sudah, Pak. Laras itu anak buahku di radio. Penyiar paling cerewet dan paling kepo,” kata Mas Ardi. Jujur banget sih mas?

“Oh begitu,” Pak Yudi tersenyum. “Kalau Ardi, gimana kalau di kantor, Nak Laras?”

“Mas Ardi itu… Mr Perfectionist, Mr Complain, King Bee…,” kataku singkat. Memang seperti itulah dia di kantor.

“Kok nggak ada bagus-bagusnya sih, Ras?!” gerutu Mas Ardi.

“Lha terus, apa bedanya sama cerewet dan kepo tadi? Nggak positif juga kan?!” sambarku. Kulihat Mas Ardi tertawa mendengar gerutuanku.

“Wah, Pak, sepertinya mereka saling cocok, nih. Tuh, udah mulai debat,” kata Pak Yudi pada Ayah.

“Iya Pak, sepertinya mereka memang jodoh. Jadi gimana? Kita tinggal aja, ya?” Ayah mengerling pada kami, lalu mengajak Bunda untuk berpindah tempat bersama Pak Yudi. Maka tinggalah kami hanya berdua saja.

***

“Kepikiran nggak sih Ras, kalau kita bakalan dijodohin?” Kata Mas Ardi setelah beberapa saat kami hanya diam. Masjid sudah semakin sepi. Hanya beberapa orang yang tinggal untuk bertadarus.

“Nggak. Sama sekali nggak kepikiran. Apalagi, nggak mungkin rasanya cowok mapan kayak Mas Ardi mau sama cewek kayak aku. Nggak feminin, jutek, nggak modis, pokoknya nggak banget deh!”

“Jangan menilai rendah diri sendiri. Kamu juga belum tahu kan, gimana sebenanya tipe cewek yang aku mau?”

“Emang yang kayak gimana?” aku penasaran.

“Ya…yang kayak kamu gini. Cerewet, kepo, tomboy, jutek dan nggak ada manis-manisnya meski kamu sebenarnya cantik.”

“Hahaha…!” Aku tertawa sambil menutup mulutku.

“Aku serius, Ras. Sebenarnya, sudah lama aku suka sama kamu. Tapi aku berpikir, apa aku termasuk tipemu? Soalnya menurut aku, kamu pasti suka cowok yang macho, ngerock atau…pokoknya maskulin deh!”

Aku tersenyum. “Ternyata kita sama-sama sok tahu ya, Mas? Aku sok tahu soal seleramu dan kamu juga sok tau soal seleraku. Apa ini pertanda kita jodoh?” kataku asal saja.

“Entahlah, Ras. Tapi malam ini, aku merasa menemukan seseorang yang pas sama aku. Aku merasa, kamu akan menjadi pelengkap yang pas buat aku. Sebelumnya, aku belum pernah ngobrol sebebas ini sama perempuan. Lepas, mengeluarkan semua sisi dalam diriku. Selama ini aku terbiasa jaim.”

“Jadi nyadar kalau selama ini jaim?”

“Laraaasss!”

“Habis emang gitu, sih. Jaim nggak ketulungan. Mas Ardi itu sebenarnya pemimpin yang baik, supel dan enak diajak ngobrol. Cuma, anak-anak itu segan sama Mas Ardi, yaaa karena tadi itu. Mr perfectionst, Mr Complain dan King Bee. Aku aja yang dengan cuek ngajak Mas Ardi debat ini itu.”

“Iya, Ras. Kadang aku ngerasa nggak enak juga sama anak-anak. Menuntut mereka untuk sempurna, mengeluhkan kinerja mereka yang nggak bener, bahkan tidak segan mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Padahal aku juga bukan manusia sempurna. Mereka sering ngomongin aku ya, Ras?”

“Ya, gitu deh. Tapi belum terlambat kok untuk berubah. Coblah lebih fleksibel sama anak-anak. Dengerin juga mereka dan kurangi ngomong yang tajam setajam golok. Mereka pasti akan hargai.”

“Kamu mau nggak, bantu aku berubah?”

“Caranya?”

“Jadilah mesin pengingatku selamanya. Sepanjang sisa hidup aku, Ras. Dampingi bujang lapuk ini menjadi lebih baik. Kamu bersedia?”

Aku hanya diam. Mencoba mencerna kalimat Mas Ardi. Ini bukan ajakan main-main, sekedar pacaran membuang masa. Ini ajakan menikah dan sangat serius! Apa aku siap? Apa aku sudah siap terikat sepanjang hayat? Jika belum, apa lagi yang aku tunggu? Bisa jadi ini adalah jodoh kiriman dari langit, setelah sekian lama aku sendiri.  Jika benar demikian, apa harus aku tolak?

“Baiklah, Mas,” kataku setelah lama diam. “Aku bersedia menjadi Nyonya Ardi.”

Aku melihat Mas Ardi tersenyum. Senyum yang lepas mengembang di bibirnya. Senyum termanis yang pernah aku lihat. Senyum yang mengerakkan bibirku untuk ikut tersenyum.

Jeda panjangku nampaknya akan segera berakhir.

***

*Terima kasih untuk Rissaid


Karya ini merupakan karya seorang blogger yang akrab di sapa Bu Dyah, sayangnya beliau telah memutuskan untuk pamit dalam dunia blogging. Seizin beliau, saya meminta karya asli lalu di posting disini, awalnya adalah repost tapi semenjak blog beliau di non-aktifkan, postingan aslinya tidak bisa di akses. Melihat pada kunjungan blog pada postingan ini yang tinggi, saya pun meminta kepada beliau agar pembaca bisa membaca selengkapnya.

 

Iklan

3 thoughts on “Akhir Sebuah Jeda — Catatan Bu Dyah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s