Titik Seimbang

Dua hari yang lalu, aku menyadari perihal titik seimbang yang penting di tengah suatu hubungan. Ini sepele dari aku yang kedapatan mencoba bermain sepatu roda oleh Ayah. Besar dengan seorang ayah yang protektif, tentunya membuat aku harus segera melepaskan sepatu roda tersebut dengan ayah yang bahkan pertamakalinya menatap dengan sedikit melotot, berbahaya sekali kata beliau.

Selama perjalanan pulang, terbesit dikepalaku bahwa Ayah dan Ibu adalah dua sejoli dengan hubungan yang berada pada titik seimbang. Bahwa Ibu dengan jiwa yang  suka mencoba hal-hal baru memang sepatutnya bertemu dengan Ayah yang selalu berhati-hati dengan segala hal yang baru. Sifat Ayah dan Ibu ini jelas turun kepada salah satu putrinya, aku suka mencoba hal-hal yang di anggap berbahaya oleh Ayah sedang adikku yang selayaknya berperan seolah Ayah, melarang ini itu, mengingatkan aku.

Ada banyak hal yang ingin ku lakukan tapi selalu belum kesampaian, sebab semuanya selalu berhenti pada saat aku meminta ijin pada Ayah, kadang aku sudah paham sendiri bahwa ada hal-hal yang jelas akan di tolak Ayah jadi aku tidak perlu berbasa-basi merayu pada beliau. Untungnya, ada Ibu disisiku yang jiwanya sama-sama menyukai hal-hal yang memicu adrenalin, kalau bukan karena Ibu, aku tidak akan dapat ijin mencoba hal-hal baru yang seringkali ditentang oleh Ayahku.

Bahwanya, segala dua interaksi memang diperlukan sebuah titik seimbang. Berbicara tentang kita, aku tahu kita bahkan adalah dua titik yang terlalu berbeda, tapi adanya, saat ini, aku merasa berada di titik seimbang.

Kita yang tak pernah meributkan keterlambatan membalas pesan, ataupun ketiduran yang tanpa pamitan, terlebih perihal ijin untuk sekedar keluar bersama teman. Aku tahu, ini adalah perihal keseimbangan yang berbeda, tapi aku bahagia, setidaknya ada jeda, rindu, dan jarak yang seimbang di antara kita. Ketika perasaan dan hubungan tak membebankan, terlebih jikalau mampu mendewasakan, aku harap kita tetap berada di titik seimbang.

Iklan

30 thoughts on “Titik Seimbang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s