Belajar Lebih Mencintai – Role Reversal

image

 

Ini pukul setengah dua pagi dan saya terjaga. Harusnya dengan udara yang sejuk ini, mudah saja saya terlelap kembali, tapi kepala terlanjur dipenuhi sebuah perihal. Perihal untuk belajar lebih mencintai, tidak, bukan kekasih atau bagaimana, tapi bapak ibu, dan melalui sudut pandang mereka.

Seringkali ketika pulang, saya menjadi tante-tante, eh maksud saya, saya banyak bertemu ponakan saya, dan sebagai tante dalam silsilah keluarga, saya seringkali menjadi semacam teman main merangkap pengasuh sementara.

Disini, saya belajar, bahwa menjadi orangtua itu susahnya bukan main, memang tidak ada yang akan seratus persen siap menjadi orangtua, jadi tak perlu takut menikah muda jika itu adalah pertimbangan dan restu orangtua. Fokus saya adalah bahwanya kita perlu untuk belajar lebih mencintai orangtua setelah pengalaman mengasuh saya.

Pengalaman saya mengasuh Al, ponakan laki berumur 3 tahun adalah dia punya belasan pertanyaan tiap menitnya. Sedari pukul 8 pagi hingga sore hari, saya bermain dengan Al dan kelelahan karena pertanyaanya. Saya harus berpikir mencari jawaban sederhana dan tepat, sebab seingat saya, Noam Chomsky mengatakan bahwa usia sekitar 2 hingga 8 tahun  adalah masa-masa emas anak belajar bahasa serta menyerap pengetahuan disekitarnya, jadi penting sekali untuk memberi pemahaman-pemahaman yang baik, jangan karena anak kecil jawabannya asal saja karena dikira paling ntar lupa, terbalik, mereka pengingat yang baik sekali. Al juga seperti anak kecil lainnya, sedang masanya menyukai sesuatu secara monoton, selama satu jam kami hanya menonton video truk pengangkut pasir, lagu yang diputar juga lagu yang itu-itu saja.

Ini membuat saya teringat alm. Nenek, beliau di masa tuanya seringkali mengulang pertanyaan yang sama, bercerita hal yang sama hingga berulangkali. Tiap subuh, saya suka menemani nenek, dan disitu nenek bisa mengulang kalimat yang sama dua-tigakali, saya sendiri sampai hafal alur ceritanya. Kalau ibu saya bilang, ini ada penjelasan ilmiahnya, intinya semacam role reversal, orangtua akan menjadi seperti anak bayi, dan sebagai anak kita berperan seperti orangtua kita dulu, mau menjelaskan suatu perihal berulangkali karena faktor usia orangtua yang cenderung pelupa dan mau mendengarkan cerita yang sama berulangkali. Disini, kita di uji, karena saya sendiri masih belajar untuk bersabar ketika Mama atau Papa mengatakan kakak kok belum cerita sedangkan saya ingat persis sudah menceritakannya, menjelaskan duakali, atau sekedar mau mendengarkan lagi cerita yang sebenarnya sudah pernah diceritakan dan berpura-pura seolah belum pernah mendengarnya demi menyenangkan hati Mama atau Papa. Sebagaimana orangtua elewati tahun-tahun yang melelahkan harus menjawab segala tanya putra atau putrinya.

Ponakan yang lain adalah Queen, ponakan perempuan berusia dua tahun. Dengan Queen saya harus pandai berdiplomasi, eh maksud saya membujuk. Queen adalah ponakan yang rata-rata tiap hari bersama saya dan hampir sedaari pagi hingga malam. Saya harus pandai membujuk dan memilih kata yang tepat, intonasi, ekspresi agar Queen mau mandi, dsbnya. Sebab Queen cenderung hanya mau setelah di bujuk saya, saya pun disitu memahami kalau bersama anak kecil ada nada, intonasi, dan ekspresi khusus agar mereka lebih terbuka dan dekat, khususnya anak perempuan. Pun ponakan saya ini tidak rewel, tapi anak kecil pada umumnya kalau sudah main, suka lupa sama yang lain. Jadi saya tidak membayangkan lelah batinya Mama dan Papa, terlebih saya waktu kecil susah sekali urusan makan.

Malam ini, saya tidur bersama Prince (5 tahun) dan Naya (6 tahun). Awalnya saya tidur paling pinggir, berjaga-jaga agar mereka tidak jatuh ke bawah, tapi kemudian Prince menggeser saya sehingga saya pindah tidur ke bagian bawah dekat kaki mereka. Kemudian lagi saya harus pindah ke posisi awal karena Naya bergerak ke bawah dan kakinya menendang-nendang. Saya kembali ke posisi awal, tapi kemudian terkena pukulan tangan Prince, lalu tergeser lagi dengan Prince yang guling-guling merasa sesak, dan saya berakhir duduk di ujung tempat tidur, posisi saya saat ini.

Tadi juga tiba-tiba Prince merengek, saya bertanya adek kepanasan? saya perlu bertanya sambil menenangkan, lalu berusaha menggapai kipas angin di atas lemari dan di tengah gelap, ternyata haus katanya, saya pun keluar mengambilkan minum, tapi kemudian anaknya tidak mau minum, dan tinggal ditepuk-tepuk sedikit langsung tidur lagi. Ini yang akhirnya membuat saya kepikiran Papa an Mama dulunya bagaimana, malam-malam yang kehilangan tidurnya.

Tapi, disamping kelelahan, saya bahagia, karena dari sebuah bacaan di internet, meluangkan waktu bermain bersama anak-anak kecil bisa mengurangi tingkat kalutnya pikiran walau kadang bisa pusing juga ketika exhausted menemani bermain seharian. Tapi bagi orangtua, apa yang mereka lakukan jelas karena cinta, menguatkan diri.

Intinya, nantinya akan tiba masa role reversal bagi setiap anak untuk merasakan lelahnya proses yang dilewati orangtuanya dalam membesarkannya. Semoga, semoga kita bisa.

Iklan

35 thoughts on “Belajar Lebih Mencintai – Role Reversal

  1. baiqrosmala

    setuju mba, pasti akan ada waktu bagi setiap anak merasakan gimana susahnya orang tua kita dulu membesarkan kita. walaupun baru hamil pertama, saya juga sudah mulai merasakan “ternyata gini yaa rasanya ibu saya dulu mengandung”. thanks for sharing

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s