Tentang Sekarang yang Nyaman

Pada hakikatnya, manusia bisa begitu sederhana, ikut berbahagia atas kebahagiaan manusia lainnya. Maka aku tidak membutuhkan banyak alasan atas kebahagiaanku terhadap momen indah orang lain. Pernikahan, misalnya. Sebagaimana aku yang menangis haru di momen pernikahan saudara, atau bahagia mendapati undangan pernikahan kawan blogger yang bahkan tidak pernah kopi darat sebelumnya.

Sebab bagiku, butuh keberanian besar untuk mengikat janji sakral tersebut. Bagaimana bisa dua manusia yang tumbuh tanpa satu sama lain sebelumnya berujung mempercayakan hidupnya pada satu sama lain kemudian?

Olehnya, aku kerap hanya tertawa jika ibu mulai membahas perihal jodoh hingga pernikahan, diam-diam aku mengalihkan pembicaraan. Aku malu, tidak seberani itu untuk sekedar membicarakan perihal pernikahan.  Bahkan ketika adikku yang jauh lebih muda menulis perihal dear future husband, aku masih tidak seberani itu. Walau sejatinya, ada banyak harap dikepalaku sedari dini. Nanti, aku tak mau kekasihku merokok, terlebih saat mengendong buah hati kami. Nanti, aku ingin kami panjat tebing bersama, dan banyak nanti lainnya.

Tapi aku tak mau banyak berbicara perihal nanti, pengalaman membuatku jera, menata banyak rencana untuk kemudian sekedar nelangsa.  Pun denganmu yang saat ini disampingku, aku tak ingin memberatkan kamu dengan banyak harap akan nanti yang aku sendiri belum tentu bisa menjaganya. Maka, biarlah kita mengalir apa adanya.

Sekarang, biar kita jalani sekarang yang ada. Sekarang, biar surat ini menjadi surat cinta untukmu tentang perasaanku yang sekarang, aku nyaman.

Tentang kamu yang tidak pernah lupa pada hal-hal kecil yang aku minta. Tentang lagu Payung Teduh yang kamu nyanyikan untukku, tentang video akustik dengan tato kecil ditanganmu yang mengisyaratkan inisial namaku, tentang foto kegiatan bermain volly yang ingin ku lihat. Aku sendiri seringkali lupa pada permintaan kecil itu, tapi kamu tiba-tiba kembali membayar janji-janji kecil itu. Aku suka, tau mengapa? buatku, romantisme itu adalah perihal mengingat hal-hal kecil. Sederhana memang, tapi ini bahasa romantisme bahwa aku selalu mengisi pikiranmu. Kamu ingat akan aku. 

Tentang kamu yang mau mendengarkanku. Aku pikir dalam sebuah hubungan, aku perlu menyampaikan perasaanku, bukan menunggu kamu untuk peka sedang aku justru diam tak bicara untuk kemudian merajuk tanpa penjelasan. Aku tak mau terlampau kekanakkan begitu. Aku memilih jujur, tentang cemburuku, tentang sedihku. Buatku, disini adalah titik untuk melihat kedewasaanmu. Maukah kamu mendengarkanku, akankah kamu menyepelekan perasaanku. Sebab perempuan terkadang hanya perlu di dengarkan, ditenangkan hatinya. Dengan kamu yang mau mendengarkanku, menjelaskan untuk menenangkan hatiku, sesederhana itu rasa nyamanku semakin jadi kepadamu.

Tentang kamu yang membuatku tertawa. Harus ku akui, bakat bercandamu mudah saja membuat perempuan jatuh cinta. Bahkan ketika aku bercerita padamu kemarin lalu, aku yang sedih karena merusak pintu mobil ayahku, candaanmu membuat sedihku sedikit lebih ringan.

Tentang kita yang santai saja. Aku suka begini, kita santai saja. Tidak pernah meributkan hal-hal sepele. Sebab aku tidak mau merumitkan yang bisa disederhanakan. Aku tidak akan marah perihal keterlambatan pesan, pun seharian tidak ada kabar. Aku percaya padamu, aku mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu. Pun aku paham jika sewaktu-waktu kamu butuh waktu untuk menikmati kesendirian barang sebentar, entah bermain bersama teman-temanmu atau sekedar menghilangkan jenuhmu.

Karena cukup kita terpisah jarak yang ada, bukan mencipta jarak  di dada dengan meributkan yang tidak berkepentingan. Perihal menekan ego untuk menjaga kehangatan. Bukankah hubungan adalah perihal dua orang yang saling berusaha menekan ego untuk kebaikan bersama.

Sejatinya, aku malu menulis ini. Ketika rasa pada hakikatnya tak butuh banyak penjelasan, hanya saja ini juga hadiah kecilku untukmu, aku bahagia menjadi perempuan dalam pelukanmu, sebagaimana yang pernah kamu katakan sebaliknya padaku.

Harapku hanya satu, jangan lupa dengan usaha cukup sebatang Malboro sehari, Sayang. 


Tulisan ini diikut-sertakan pada lomba GiveAway 12th Wedding Anniversary : Letter to My Husband/Wife, My Future Husband/Wife  oleh Bu Dyah. yang di adakan dalam rangka memperingati ulangtahun pernikahan beliau yang ke-12. Happy Anniversary Bunda. 

you-make-may-world-so-colorfull-thank-you1

Iklan

93 thoughts on “Tentang Sekarang yang Nyaman

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s