Satu Kesepakatan

Perbincangan yang memenuhi udara kemudian kita tutup dengan satu kesepakatan yang barangkali beda tipis dengan alibi untuk mencari aman, pembenaran atas masalalu yang pada hakikatnya memang tak perlu lagi dibicarakan.

Kita mencintai aksara, merangkainya menjadi sajak, membungkus rasa menjadi guratan kata, hanya saja pada segala yang tertulis di masa lalu adalah dua cerita yang berbeda. Tapi pada satu kesepakatan yang kita selingi tawa kemudian, tak mengapa.

Sebab segala yang tertulis biar menjadi satu rahasia sang penulis. Aku yang bukan menjadi rima dalam puisimu dulu, aku tak peduli. Aku yang belum menjadikan namamu nafas dalam puisiku dulu, kau tak peduli.

Pada akhir kesepakatan, kita harus tetap menulis, dan aku jauh dari akan salah paham pada segala aksaramu, sebab kita memang harus sering-sering bermain dengan imaginasi, seperti ucapmu kapanlalu.

Pun aku bahagia dengan kemauanmu mengerti kesukaanku ini, menulis. Barangkali aku lupa mengatakannya, tapi aku mencintaimu karena kamu menulis, salah satunya.

Pada perbincangan itu, kau tahu kan aku ini sedikit usil, olehnya dadaku jauh dari cemburu pada segala puisimu yang lalu, sebab ia hangat atas puisi yang kamu bacakan sebelum lelapku.

Iklan