Pada Sebuah Pilihan

Pada akhirnya sebuah pertemuan akan menghadirkan sebuah perpisahan.

-Sebuah salam perpisahan.-


Enam tahun lalu, saya tidak tahu apa itu blog, web blog dan ngeblog. Saya juga tidak tahu, saya harus ngapain setelah saya punya blog. Hingga saya musti berganti-ganti platform sebelum akhirnya saya bertemu blogdetik, kemudian loncat ke Kompasiana, ketemu lagi dengan blogspot dan berakhir di WordPress.

Enam tahun lalu, saya tidak bisa menulis. Sampai kemudian saya rajin baca tulisan orang lain dan mulai belajar menulis. Apa saja saya tulis, meski lebih banyak tulisan lebay ala emak-emak yang banyak drama, sampai kemudian saya mencoba menulis fiksi, setelah merasa ‘iri’ dengan tulisan fiksi seorang teman yang banyak banget komennya. Saya juga mulai berteman dengan banyak orang. Ibu rumah tangga seperti saya, mahasiswa, mahasiswi, dokter, istri tentara, istri polisi, istri dokter(kok istri semua sih? biarin!), pensiunan, guru, aktivis sampai pegawai kantor pajak.

Empat tahun lalu, saya mulai berani mencoba menulis fiksi dengan bermacam genre. Drama, romantis, horror, suspens, meski lebih banyak fiksi cinta-cintaan sotoy dan nggak pernah berhasil bikin puisi yang cantik. Tapi saya mulai sadar, bahwa sebenarnya saya punya bakat dan napas panjang untuk menulis. Bakat yang selama ini kurang saya sadari dan saya biarkan terkubur begitu saja.

Kemudian tanpa saya sadari, menulis sudah menjadi napas saya. Ada yang kurang jika sehari saja saya tidak menulis. Ada sesuatu yang mengganjal jika saya tidak menuangkan ide yang kebetulan singgah di kepala, yang kadang liar tak terbendung. Maka kemudian lahirlah ratusan tulisan hingga kemudian terbitah bebarapa buku yang nggak seberapa itu, yang salah satunya sudah berada di tangan kalian.

Lambat laun saya pun mulai menyadari, bahwa setiap saya terjaga di dini hari, dalam daftar yang terpampang di ‘layar virtual’ ingatan saya, ada satu agenda yang harus terpenuhi yaitu menulis. Apakah menulis fiksi atau sekedar cataran harian, atau menulis komentar di tulisan teman-teman yang makin hari makin banyak. Tidak ada hari tanpa menulis meskipun hanya satu dua paragraf.

Menulis kemudian menjadi katarsis. Pembersihan terhadap isi batin yang kadang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata verbal. Pelarian rasa suntuk terhadap rutinitas yang sudah saya hapal di luar kepala sejak dini hari hingga saya merem lagi di malam hari. Rutinitas yang kadang seolah memenjarakan saya meski saya bisa bergerak bebas ke mana saja.

Namun tanpa saya sadari pula, ada yang diam-diam cemburu dengan kegemaran saya menulis. Cemburu dengan komentar pembaca pria di tulisan saya, dan cemburu dengan rasa bangga saya ketika ada yang menilai tulisan saya bagus. Masalahnya adalah, orang yang cemburu tersebut adalah orang yang harus saya patuhi aturannya, selama saya masih memegang ‘paspor’ untuk terbang bersamanya.

Orang tua saya bilang, wong lanang iku Pengeran katon, Tuhan yang mengenjawantah berwujud sesosok pria yang kita sebut suami. Dan sebagaimana saya mematuhi Tuhan saya, maka saya harus mematuhi apa yang dia sabdakan. Membuat suami cemburu, bukan sesuatu yang menyenangkan buat saya meski saya tidak sengaja melakukannya.

Karena itu, dengan sangat berat, saya menghapus blog saya berikut semua tulisan di dalamnya. Ada sebagian yang sudah saya simpan copy-nya, ada sebagian lain yang saya biarkan menghilang. Tidak ada lagi Just Dyah!, tidak ada lagi slogan Just Write No Fight!, dan tidak ada lagi cerita bersambung yang akan hadir setiap Selasa dan Jumat, atau sekedar cerpen dan humor yang bisa muncul kapan saja.

Mungkin ada yang bertanya (kalau ada), apa nggak sayang sama bakatnya? Kalau dibilang sayang, ya pasti sayang, lah. Tapi biarlah bakat itu saya kafani dan kemudian saya kubur dalam-dalam. Terasa sakitnya memang, apalagi setelah enam tahun saya belajar menulis dengan baik. Dan setelah tulisan saya sedikit lebih baik dari sebelumnya, saya harus mengakhirinya. Saya sudah pernah mengabaikan bakat saya dan saya baik-baik saja. Jika kali ini saya melakukannya (lagi) saya pasti tetap akan baik-baik saja.

Saya mohon maaf, bila selama berteman dengan kalian, saya banyak sekali melakukan kesalahan. Entah itu tulisan, komentar atau celetukan apapun. Saya juga minta maaf, jika tulisan cerbung yang sudah saya tayangkan sebagian terpaksa tidak bisa saya lanjutkan. Saya juga tidak tahu, apa masih bisa saya meneruskannya jika saya tahu tidak akan ada yang baca kecuali saya sendiri. Karena jujur saja saya masih dalam masa denial. Masih berusaha berdamai dengan diri sendiri karena saya harus kembali menjadi saya yang dulu, yang nggak nulis dan nggak ngeblog lagi bahkan (akan jarang) blogwalking. Tulisan saya di Kompasiana juga sudah saya hapus dan saya juga sudah mengirim email pada admin Kompasiana, untuk mem-banned akun saya. Kenapa harus di-banned? Karena, jika saya merasa masih punya ‘kamar’ di sana, saya akan terus berusaha kembali ke sana.

Saya juga minta maaf karena banyak blog yang saya unfollow. Terima kasih sudah berteman dengan saya selama ini dan menjadi penyemangat saya melalui cerita dan tulisan kalian. Saya harap teruslah menulis dan menyebarkan cerita apa saja ke seluruh penjuru bumi. Jika cerita bahagia, semoga bisa membuat orang lain ikut merasa bahagia, namun jika cerita duka, semoga ada terselip pesan agar senantiasa bijak menyikapi setiap ujian yang mampir pada kita.

Akhirnya, terima kasih buat Arin, yang sudah bersedia memposting tulisan ini. Terima kasih juga sudah pernah menulis fiksi berkait dengan saya dan Mas Toro. Makasih sudah boleh saya ambil quotes-nya untuk sisipan fiksi-fiksi saya. Terus nulis, terus berkarya dan membius pembaca dengan diksi-diksi cantik yang lahir dari lantunan jiwa yang bahagia.

Gumawo… Mianhaeyo…
Jeoneun dangsineul saranghamnida… ❤ ❤ ❤ ❤

***


Pada pesan Whatsapp yang masuk beberapa waktu lalu, saya dikagetkan oleh seorang Bu Dyah, penulis dan blogger aktif yang biasa saya sapa Bunda Dyah.

Keputusan beliau menyudahi dunia blogging membuat saya terkejut dan sempat menyayangkan.

Kami memang sekedar bertemu di dunia maya, dan terpisah oleh jarak. Tapi dalam prosesnya, beliau adalah ‘ibu’ saya di dunia blogging serta memberikan pengaruh dalam proses menulis saya. Beberapa waktu lalu, beliau berhasil membuat saya yang kerapkali malu, terpacu untuk mengikuti Giveaway dari beliau, 12th Anniversary Giveaway – A letter for my Husband/Wife bersama rekan blogger lainnya seperti kak Irawan, Mba Cinta, dan belasan lainnya (mohon maaf saya tidak bisa mengakses semua domainnya). Pemenang utama adalah mas Jampang, Febri pada posisi kedua yang mendapatkan buku karya beliau sendiri dan alhamdulillah, sebuah kejutan, tulisan saya mendapatkan hadiah buku di posisi ketiga.

Bagaimanapun, saya mendukung apapun keputusan Bunda, hidup adalah pilihan. Terlebih saya mencoba memahami sudut pandang dari kacamata beliau. Sebuah pilihan untuk kebahagiaan yang lebih hakiki dari duniawi, karena pada akhirnya, seperti yang pernah saya baca dan nasehat orangtua, bagi sepasang suami istri, satu sama lain adalah tempat bersender di masa tua, dan sahabat untuk bersama ke pintu Surga.

Semangat selalu Bunda Dyah yang telah dan banyak menginspirasi. ❤

Iklan

52 thoughts on “Pada Sebuah Pilihan

  1. fahrizinfa

    sayang banget kalau tulisan nya dihapus semua… saya dulu pernah memutuskan untuk menghapus beberapa tulisan saya di blog yang lama. dan jujur nyesel banget…
    Yaa tapi semoga diberi yang terbaik ya dan semoga suatu saat nanti bisa kembali ke dunia blogger ini 🙂

    Suka

  2. suciwidari

    Ya ampun dek, udah lama ga ngeblog langsung dapat kabar yg bikin shock n sedih gini, tapi salut sama keberanian beliau mengambil keputusan ini.

    Bakal kangen bgt sama postingan2 Bu Dyah yg biasanya selalu muncul. Aah.. sedih 😢

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s