Sebuah Gusar

Sebuah kebohongan, kalau kubilang aku tak pernah merasa takut jika alih-alih kehilanganmu. Hanya saja rasionalitas menjaga logikaku, mengapa harus ku takut ketika aku bahkan tidak pernah sepenuhnya memilikimu, ironinya, bahkan tidak berkesempatan untuk itu. Sadar mengingatkan aku bahwa setiap kehilangan adalah hakikat yang menjadi milik Tuhan, setiap kehilangan hanya berpulang pada pemberinya. Sayangnya, kehilangan itu tanpa peringatan: setidaknya agar hati mampu berlapang dada telebih dahulu.

Aku juga tak mau terlampau takut pada sesuatu yang jelas di luar dari kemampuanku, menjaga kamu di sisi ketika perpisahan dan manusia selalu teramat dekat, dan kekhawatiran semacam menjadi perekat yang hanya menjadikan hati susah payah sendiri ketika harus melepaskan.

Tapi kau tahu bagaimana sebuah pelukan yang dilepaskan menyisakan ruang hampa di dada. Sebuah kehilangan berujung pada rindu yang tak bisa diapa-apakan, menyiksa di penghujung malam, dan aku semacam takut mendapati sunyi yang tiba-tiba menyelinap, memberi jarak di antara kita, membuat hambar percakapan, meleburkan nyaman berujung kekakuan, membuat kita berpikir dua kali untuk saling menyapa, dan akhirnya sebuah penolakan tak akan berarti apa-apa, ketika aku sepatutnya melepaskanmu pada akhirnya.

Post-Scriptum: Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan rutin menulis sebagai anggota dari Akarumput, dan telah di sunting terlebih dahulu oleh editor Akarumput; Abang Ical.

Iklan

20 thoughts on “Sebuah Gusar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s