Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Sadari Sepenuhnya.  

Perbincangan singkat dengan ibu saya, beberapa waktu lalu, mengingatkan saya pada hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, tanggal 25 November 2016 kemarin. Meski sudah lama terlewat, tapi tulisan ini saya rasa tetap penting dipublikasi, sebagai nasehat kepada diri dan teman-teman, mengingat kurang ramainya momen 25 November itu diperingati.

Setiap tanggal 25 November, masyarakat kembali dihimbau melalui kampanye anti kekerasan perempuan, dan saya percaya bahwa justru perempuanlah yang harus disadarkan dengan konsep anti kekerasan terhadap perempuan.

Berdasarkan Depkes. RI tahun 2006, jenis kekerasan dibagi menjadi tiga; kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan seksual. Bahwanya, kekerasan terhadap perempuan tidak hanya berkutat pada kekerasan fisik: perihal main tangan, ataupun pukulan. Ada banyak jenis kekerasan yang harus setiap perempuan pahami, agar mereka tahu hak-haknya, agar mereka tahu cara melawannya.

Saya ingin setiap perempuan cermat dan waspada, ada banyak jenis kekerasan yang tumbuh pada hal-hal kecil. Hal-hal yang di anggap sepele. Bahkan dengan orang-orang yang justru dekat dengan kita.

Beberapa waktu lalu, ada kasus seorang pramugari melaporkan beberapa penumpangnya dengan tuduhan pelecehan seksual. Candaan beberapa penumpang mengenai pesanan segelas susu yang di plesetkan menjadi candaan tidak etis (“susu kanan apa kiri”) tersebut membuat mereka harus berurusan dengan hukum. Bahwa apapun yang berkonotasi seksual dan membuat ketidaknyamanan bisa mengarah pada pelecehan seksual, adalah bagian dari jenis kekerasan seksual. Pelecehan seksual tidak hanya berlaku untuk pelecehan seksual secara langsung fisik dengan fisik. Ia berlaku pula untuk pelecehan verbal seperti contoh di atas.

Bahkan dalam hubungan sepasang kekasih, ada banyak jenis kekerasan yang belum disadari. Perkelahian dengan kata-kata kasar yang dianggap lumrah dengan pledoi cemburu atau rasa sayang, adalah bagian dari kekerasan. Laku posesif yang membatasi gerak seorang perempuan hingga mengancam pasca perpisahan hubungan, hal-hal seperti ini termaksud dalam kekerasan psikis karena ia merendahkan citra seorang perempuan dengan menekan emosi, memberikan beban secara psikis sehingga menyebabkan rasa takut, melahirkan ketidakpercayaan diri seorang perempuan. Hal inilah yang seringkali menyebabkan seorang perempuan susah untuk keluar dari sebuah hubungan yang ‘abusif’. Terlebih paksaan untuk bersentuhan secara fisik ataupun pembicaraan verbal yang berbau seksual juga merupakan kekerasan terhadap perempuan, walaupun dengan alibi sepasang kekasih dan atas nama cinta.

Olehnya, sebagai perempuan, kita harus paham apa saja yang termaksud dalam jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan. Ia tidak hanya datang dari orang-orang asing, ia bisa datang dari orang-orang yang justru dekat dengan kita, dengan lingkungan tempat kita tinggal. Bahwanya kita selalu harus cermat dan waspada. Sadar sepenuhnya. []

Post-Scriptum: Tulisan ini ditulis dari pengalaman teman-teman, pribadi. Untuk para perempuan diluar sana yang tidak perlu memahami lewat pengalaman yang sama terlebih dahulu. Tulisan ini juga merupakan bagian dari kegiatan rutin menulis sebagai anggota dari Akarumput, dan telah di sunting terlebih dahulu oleh editor Akarumput; Abang Ical.

Iklan

7 thoughts on “Anti Kekerasan Terhadap Perempuan: Sadari Sepenuhnya.  

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s