Tak Bisa Membantu Banyak, Hanya Do’a oleh Hana Charaka.

Tanggal 22 Desember tepatnya satu minggu yang lalu, saya mendengar kabar dari salah seorang rekan kerja yang juga sekaligus seorang aktivis kalau Kota Bima sedang dilanda banjir bandang. Kabar itu saya dapatkan dari percakapan di sebuah grup Whatsapp (WA). Saat itu saya baru bangun pagi dan baru mengaktifkan paket data di smartphone saya. Beberapa puluh chat masuk dilayar ponsel, dan membaca percakapan yang membahas tentang banjir bandang yang saat ini melanda Bima. Pagi itu juga saya langsung terperanjat mengingat salah satu rekan dari komunitas menulis yang berasal dan tinggal disana. Ya, namanya, Rissaid. Rissaid merupakan salah satu dari kawan bloggernya ketua komunitas kami, Bang Ical, sapaan akrabnya. Ya, melalui dia (Bang Ical) kami diperkenalkan dan pernah sekali diajak kopdar di Taman Budaya Kota Mataram beberapa bulan yang lalu. Dari sana kami saling kenal dan akrab meski percakapan selanjutnya hanya melalui chattingan.

Pagi itu juga selekas membaca pesan chat, saya langsung mengirimkan pesan lewat WA kepadanya. Dia berasal dan tinggal disana. Saat pesan sudah dkirimkan, tanda pada pesan chat centang 1 dan itu pertanda belum diterima, dalam hati saya berpikir, ada 2 kemungkinan : pertama handphone-nya mati dan yang kedua jaringan internetnya tidak aktif. Saat itu saya tidak punya pulsa untuk mengirimkan pesan singkat. Saya makin panik, dan meminta salah satu teman, yaitu Bang Ical untuk menghubunginya via sms atau telpon. Syukurlah cepat dibalas dan mengabarkan kalau dia baik-baik saja karena lokasi terjadinya bencana cukup jauh dari tempatnya. Tetapi disisi lain, dibalik rasa khawatir yang hilang mendengar dia baik-baik saja, muncul kekhawatiran lain, info yang saya dengar kalau banjir bandang itu melumpuhkan sebagian Kota Bima dengan ketinggian air mencapai 5 meter. Saya langsung ngeri mendengar kabar itu. Bagaiman tidak, beberapa hari sebelum mendengar kabar itu, saya bersama rekan kerja saat itu yang kebetulan keluar membeli perlengkapan kantor terjebak lama oleh hujan besar. Ketika hujan sudah reda kami pulang, dan melewati jalan yang biasa kami lewati. Naas, ternyata jalan itu sudah lumpuh oleh banjir. Ya, saat itu kami terjebak banjir se-paha orang dewasa. Saat itu saya begitu panik dan deg-degan, pasalnya kami memakai motor yang saat itu juga langsung mati terendam dan takut hanyut dibawa arus banjir. Saya begitu ngeri membayangkan terjebak banjir yang baru selutut, dan membayangkan kembali betapa kasihan dan mencekamnya suasana dimana orang-orang berada dalam situasi yang seperti itu.

Saya benar-benar tidak bisa mebayangkan bagaimana nasib saudara-saudara yang berada disana. Melihat dari koran, air hampir menutupi atap-atap rumah warga, bagaimana nasib anak-anak kecil dan orang-orang yang memiliki bayi? Bagaimana dengan sekolah mereka? Bagaimana dengan kerjaan mereka? Darimana mereka mendapatkan makanan dan pakaian? Kabarnya, banjir terjadi akibat ulah warga sendiri, warga yang tak bertanggung jawab karena membabat hutan hingga hampir habis, meskipun sudah diperingatkan oleh WALHI. Akibatnya, warga dan anak-anak kecil yang tak berdosa ikut menanggung bencana yang ditimbulkan oleh beberapa ulah yang tak bertanggung jawab.

Saya bahkan tak bisa membayangkan suasana mencekam yang ada di kota itu ketika malam tiba, rumah yang masih terendam banjir dan dingin yang menusuk tulang-tulang mungil anak-anak yang tak berdosa itu. Kami disini berharap, semoga warga kota bima diberikan ketabahan. Kami disini tak bisa membantu banyak dan langsung ikut turun tangan untuk membantu, meskipun dalam hati kecil kami (terutama saya) ingin sekali terjun ikut membantu sebisa mungkin, tetapi apa daya kami terkendala pekerjaan. Dari sini kami cukup medoakan yang terbaik untuk Bima, membantu mem-packing dan mengantarkan sumbangan pakaian layak pakai. Kami mendoakan dari sini, semoga bantuan tidak terbatas pada bantuan materi dan logistic tetapi juga bantuan berupa buku-buku bacaan yang bisa menghibur adik-adik kecil itu. Saat ini mereka yang tidak bisa bersekolah tetapi harus tetap bisa belajar meskipun hanya sebatas membaca, karena menjadi cerdas bisa dilakukan dimana saja tanpa terbatas pada sekolah saja.

Doa dari seorang saya yang bukan siapa-siapa, yang bukan dari kalangan priyai ataupun tak sekelas dengan para alim ulama disana, doa kami tetap sama dengan mereka, semoga warga Bima diberikan yang terbaik, diikhlaskan hatinya orang-orang yang diambil harta benda maupun sanak keluarganya melalui musibah bajir. Karena bagaimanapun, selalu ada hikmah dibalik setiap musibah dan bencana dan mengajarkan bahwa semua itu hanyalah titipan. Hutan adalah warisan alam untuk manusia dari generasi ke generasi, maka ia haruslah disisakan untuk generasi selanjutnya.

Untuk adik-adik para penerus bangsa yang ada di Bima sana, semoga bencana ini tidak mematahkan dan membuat mental kalian down apalagi menyurutkan semangat kalian untuk belajar, justru melalui musibah ini banyak pelajaran yang bisa kalian petik nilainya yaitu, mulai dari : belajar ikhlas, sabar maupun memiliki sifat dan sikap peduli terhadap lingkungan bagaimana caranya menjaga dan menciptakan lingkungan yang aman dari bencana.

Terimakasih, hanya ini yang bisa saya tuangkan karena saya masih belum pandai dalam merangkai kata-kata. Untuk adik-adik tetap semangat. Salam dari pulau seberang, pulau tetangga, Lombok.


Post-Scriptum: Tulisan ini merupakan karya seorang Hana Charaka, salah satu anggota kelompok menulis Akarumput. Tulisan ini mewujud kepedulian bagi kerabat, saudara korban banjir di Bima, NTB pada 21 dan 23 Desember 2016 lalu.

Selama seminggu kedepan, seizin kawan-kawan Akarumput, saya akan membagikan tulisan-tulisan mereka disini, karena menyebarkan kabar serta do’a yang terselip dalam ungkaian kata tetaplah berharga. Olehnya, Akarumput menulis, kami menulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s