Banjir Tidak Lebih besar dari Bima oleh Bang Ical

Sewaktu tulisan ini saya tulis, kipas angin sedang menyala, mengeringkan keringat saya yang mulai merembes karena baru selesai membantu menggeser lemari di kamar Mamak. Si Melak, kucing liar yang suka nangkring di perpus KCB, sedang meringkuk nyaman di atas karpet hijau: kekenyangan. Tiga anggota KCB sedang tiduran sembari serius membaca buku. Seorang lagi bermain gitar. Seorang lagi sedang nge-print tugasnya.

Semua penuturan ini, sungguh tidak penting, kan? Benar. Karena saat ini, Bima sedang genting. Bima butuh dipentingkan. Berbagai gerakan penggalangan dana diluncurkan. Pelajar, mahasiswa, pemuda, dalam berbagai organisasi dan komunitas, turun ke jalan. Solidaritas SASAMBO (Sasak, Samawa, Mbojo) di Kota Malang menggelar parade budaya sebagai strategi menggalang dana. Teater Putih UNRAM menggelar pentas teaterikal terbuka dengan HTM 5000 rupiah saja, yang total penjualan tiketnya didonasikan semua. Tim Medis TNI sudah jauh-jauh hari diturunkan ke lokasi.

Sisanya berdoa saja. Pasang status di pesbuk, lalu sudah. Itu semua penting. Yang tidak penting adalah paragraf pertama tulisan ini.


Dari tiga suku bangsa besar di NTB, Bima dikenal sebagai yang paling maju Sumber Daya Manusianya. Kota yang tidak sebesar Mataram itu bahkan punya lebih dari 200 media lokal, dengan seribu lebih jumlah jurnalis. Di Lombok, berapa sih jumlah media? Bisa dihitung jari. Itu cukup membuktikan bahwa daya intelektualitas dan etos kerja Orang Bima sangat tinggi. Di tanah rantau, Orang Bima juga dikenal demikian.

Bisa dibilang hina, bila perantau Bima tidak terlibat aktif dalam kinerja-kinerja yang positif. Orang Bima menggeluti bisnis, masuk ke ranah pemerintahan, menjadi aktor di institusi-institusi pendidikan, menggeliat di gerakan sosial. Semua digarap dengan dedikasi yang tinggi. Persatuan Orang Bima amat tinggi.

Bahkan ada anekdot yang menggambarkan cetak sosiologis masyarakat NTB: bila Orang Lombok sampai di tanah rantau, tempat pertama yang harus dicari adalah tempat makan; Orang Samawa (Sumbawa) akan bertanya dimana pusat perbelanjaan (mereka tidak sudi kalah glamor); Orang Bima akan bertanya dimanakah markas persatuan Bima, tak sabar menelusuri bidang apa yang bisa digarap bersama.

Entah siapa yang membuat anekdot itu, saya sudah dengar sejak masih mondok di Nurul Hakim, Kediri, tahun 2005-an. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari tiga suku bangsa besar itu, anekdot tersebut benar-benar hidup, dan saya menemukan pembenarannya lewat pergaulan sehari-hari, karena kawan-kawan saya berasal dari tiga suku bangsa besar itu.

Maka, kita harus mencamkan ini:

Banjir di Bima hanya meluluh-lantakkan material, tak lebih. Banjir di Bima tidak lebih besar dari Orang Bima itu sendiri. Orang Bima tidak akan hancur hatinya: bukan tidak akan, tapi tidak boleh. Orang Bima itu kuat, dan bisa dengan mudah membangun ‘sesuatu di luar dirinya’ yang oleh Allah sengaja dihancurkan sebentar, sebagai ujian, untuk menata diri. Orang Bima juga harus belajar mengenal alamnya sendiri, yang mungkin sempat lalai dijaga, sehingga air tidak tertahan pohon dan meluncur merontokkan rumah-rumah. Adik-adik kecilnya harus meleng sejak dini, lebih banyak membaca, belajar dan berkarya lebih banyak, melampaui legenda sejarahnya.

Bangunan bisa dibangun ulang, tapi pelajaran berharga tidak datang pada hati yang kurang ditempa dan banyak mengeluh. Bantuan bisa didatangkan ribuan kali, tapi etos dan nilai butuh waktu ratusan tahun untuk dibentuk sekeras cadas.

Orang Bima harus kuat. Orang Bima sejak lama memang sudah kuat. Kalembo Ade, saudara-saudaraku disana. Allah bersama kalian


Post-Scriptum: Tulisan ini merupakan karya seorang Bang Ical, salah satu anggota kelompok menulis Akarumput. Tulisan ini mewujud kepedulian bagi kerabat, saudara korban banjir di Bima, NTB pada 21 dan 23 Desember 2016 lalu.

Selama seminggu kedepan, seizin kawan-kawan Akarumput, saya akan membagikan tulisan-tulisan mereka disini, karena menyebarkan kabar serta do’a yang terselip dalam ungkaian kata tetaplah berharga. Olehnya, Akarumput menulis, kami menulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s