22 Desember oleh Zasminah Shofiyaa

“selamat hari ibu…” itu yang ingin sekali terucap dengan suka cita, tapi sayangnya tak ada ucapan itu.

Barangkali ia telah terhapus oleh derasnya hujan, atau telah hanyut bersama derasnya air yang membanjiri seluruh, dan tersamar oleh raungan suara tangis dimana-mana.

Bima penuh air. namun barangkali ia tak menawarkan kesejahteraan. ia juga tak lagi memenuhi hatiku dengan kebahagiaan. tapi malah ketakutan yang tak henti-henti.

Aku-seseorang yang barangkali tetap mengagumi hujan itu-takut. meski tak setakut mereka di Bima. Tak sebegitu sedih dari mereka. bukankah, tak ada yang benar-benar mengerti rasa? tak ada yang sungguh sengguh bisa merasakan bagaimana pilunya orang lain atas musibah yang terjadi kecuali mengalaminya sendiri?!

Ini barangkali hanya rentetan kata-kata kosong tampa rasa, yang tak mengerti segala penderitaan yang menimpa. Namun tetap saja aku ingin menuliskannya.

Semoga ia mampu menyusun kembali keping-keping hati yang retak. menyisipkan kebahagiaan pada redupnya cahaya wajah.

Kau harus tahu, apapun dariNya, itu baik. Tuhan tak pernah memberi cobaan yang tak mampu dibendung hambaNya. jadi, semua ini akan terlewati. hujan akan reda, dan bumi akan menghijau kembali. maka tersenyumlah…

Ya, kata-kata memang hanya sekedar kata-kata yang sulit memahami rasa.

Tapi, cobalah temukan serpih-serpih nyawa kehidupan untuk kau melanjutkan hidup.

Bencana, musibah, memanglah hal yang tak selalu bisa kita elak. meski begitu, tak boleh ada kesedihan yang keterlaluan menguasai hidup. karena jika begitu, masa depan yang bening menjadi keruh.

Percayalah, segala kehilangan akan tergantikan. segala luka, akan tersembuhkan. Semua kesedihan akan berlalu dan tergantikan dengan kebahagiaan dan kenikmatan.

“Fa inna ma’al ‘ushriy yushro”

Akhirnya…,

Kita memang seringkali salah paham dan terlanjur kecewa terhadap ketentuan Tuhan yang tidak sepadan dengan apa yang kita inginkan. padahal sesungguhnya maksud Tuhan selalu baik…

Dan kita juga lupa atau bahkan tak mengerti bahwa maksud baik Tuhan, tak melulu disampaikan dengan jalur-jalur menyenangkan…

Maka,

Cobalah tetap mengeja hikamah atas semua yang telah terjadi. pelan-pelan saja. Ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan….


Post-Scriptum: Tulisan ini merupakan karya seorang Zasminah Shofiyaa, salah satu anggota kelompok menulis Akarumput. Tulisan ini mewujud kepedulian bagi kerabat, saudara korban banjir di Bima, NTB pada 21 dan 23 Desember 2016 lalu.

Selama seminggu kedepan, seizin kawan-kawan Akarumput, saya akan membagikan tulisan-tulisan mereka disini, karena menyebarkan kabar serta do’a yang terselip dalam ungkaian kata tetaplah berharga. Olehnya, Akarumput menulis, kami menulis.

Iklan

6 thoughts on “22 Desember oleh Zasminah Shofiyaa

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s