Hujan Kembali Turun di Bima oleh Alung

            Aku sejak kecil memang tidak pernah bersahabat dengan banjir, kenal saja tidak apalagi merasakan dingin dan keruhnya air banjir. Tapi di setiap tahunnya tidak satu kali pun terlewati bahwa banjir itu nyata di negara ibu pertiwi ini: Indonesia. Kota Jakarta yang tak sekalipun absen dikunjungi banjir itu hanya bisa ku saksikan melalui layar media-media televisi bahkan tertulis juga di berbagai koran dengan headline yang menghebohkan dan membuat hati para pembaca mulai terketuk sembari berpikir: saudara kita butuh orang-orang yang peduli. Maka tidak heran pula kita mulai mempertontonkan rasa kemanusiaan kita yang berlakon kemuliaan. Aku pun tahu bahwa manusia memang seperti itu kodratnya.

            Hujan kembali turun di Bima. Hujan pun berubah menjadi bencana yang menimbulkan beragam masalah, banjir menjadi anak nyata dari ganasnya hujan. Sudut pandang pun boleh diperdebatkan oleh manusia sejauh mana memaknai hujan sebagai berkah bagi para petani, tapi kali ini hujan telah memberikan sudut pandang yang lain, tak pantas jika menyalahkan Tuhan sebagai dalang tunggal terjadinya fenomena alam. Yang harus kita perhatikan saat ini adalah rasa kemanusiaan, iya rasa kemanusiaan yang sudah ada sejak kita bisa berpikir, siapa dan di mana kita berada. Tak maslah jika kamu kaya tahu tidak, kamu mampu atau tidak, karena rasa kemanusiaan jauh lebih besar dari itu semua. Jika asumsi yang mengatakan bahwa orang kaya biasanya merupakan sahabat para tiran, maka di sinilah kamu bisa berbagi rasa kemanusiaan, dan jika dikatakan bahwa orang miskin tak segan-segan menjual kebebasannya, maka di sinilah kamu bisa menjual doa-doamu kepada Tuhan.

            Hujan kembali turun di Bima. Orang kaya dan orang miskin jadi sama derajatnya, pengemis dan terpelajar jadi sahabat baik dalam menerima musibah kemanusiaan ini, anak-anak masa depannya mulai dipertaruhkan, ibu-ibu ikut membasahi bumi dengan air matanya, maka siapa yang akan mulai merasa terganggu dengan semua ini, manusialah orangnya. Petang ini Aku kembali melihat update berita di Bima dan tertulis menyedihkan: Hujan kembali Turun di Bima. Ujian memang sepantasnya diperuntukkan pada umat manusia, tapi bukan hanya mereka para masyarakat Bima yang sedang diuji, tapi sadarkah kita bahwa kita semua sedang diuji dengan beragam cara. Maka jika sekantong uang dan materi tak mampu disalurkan, hati pun harusnya lebih lunak lagi dari itu semua guna untuk menyumbangkan doa bagi mereka yang sedang diuji dengan bencana dan bagi kita semua yang sedang diuji dengan rasa kemanusiaan.


Post-Scriptum: Tulisan ini merupakan karya seorang abang Alung, salah satu anggota kelompok menulis Akarumput. Tulisan ini mewujud kepedulian bagi kerabat, saudara korban banjir di Bima, NTB pada 21 dan 23 Desember 2016 lalu.

Selama seminggu kedepan, seizin kawan-kawan Akarumput, saya akan membagikan tulisan-tulisan mereka disini, karena menyebarkan kabar serta do’a yang terselip dalam ungkaian kata tetaplah berharga. Olehnya, Akarumput menulis, kami menulis.

Iklan

8 thoughts on “Hujan Kembali Turun di Bima oleh Alung

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s