Berdiam

IMG_20170115_143022.jpg

Mungkin kamu akan tertawa melihat hasil jepretanku ini, tapi aku punya pledoi yang mungkin akhirnya akan membuat kamu mengerti.

Lihat bagaimana mereka begitu dekat, namun hanya saling diam. Semacam gambaran kecil tentang kita yang mulai kehabisan topik pembicaraan, aku yang terlalu sungkan, sedang kamu yang akhirnya tak terlalu mau dipusingkan.

Kita kemudian kembali pada rutinitas masing-masing, kamu yang tak tahu menahu, dengan aku yang baru sadar kemudian, bahwa satu dua waktu adanya aku kepikiran.

Dan mungkin kamu tidak akan pernah tahu, sebab ranah perempuan hanyalah menjawab, dan kamu pun tahu tiap jawaban punya waktunya tersendiri.

Dan aku takut kamu terlalu cepat bertanya.

Ah tidak…tidak usah bertanya.

Aku ingin begini begini saja, diam-diam saja mengaggumimu.


Post Scriptum: Kegiatan menulis rutin anggota komunitas menulis Akarumput. Inspirasi  oleh nasihat bang Vyal.

Iklan

9 thoughts on “Berdiam

  1. Gara

    Komunikasi dalam diam itu kadang maknanya bisa berjuta-juta lho Mbak, hehe. Apalagi kalau pada akhirnya kedua belah pihak bisa saling mengerti. Pada akhirnya, kata-kata hanya medium, karena jauh lebih banyak perasaan dan konteks yang tidak bisa digambarkan dengan hanya sekadar kata.
    Mungkin itu pembelaan si cowok yang lebih sering berada dalam diam. Peace.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s