Tanpa Dekapan

Tak semua rindu dan rasa harus berakhir pada sebuah dekapan. Mungkin pledoiku akan membuatmu tertawa sinis, jengah dengan seperkian alasan yang tak aku bicarakan tapi akhirnya pelan-pelan membawa kita pada persimpangan yang berbeda; percakapan yang mulai sederhana dan jauh lebih singkat dari yang pernah mengisi hari-hari sebelumnya.

Kamu pun barangkali tahu kekakuan diantara kita semacam angin yang tiba-tiba saja menyeruak masuk ke kulitmu, ia tanpa permisi sudah berada di dalam, membuat nyeri, dan masing-masing dari kita kemudian kehabisan topik perbincangan.

Barangkali pula karena cemburuku yang terlalu memburu, penjelasanmu tetap saja berujung buntu, penolakan terlanjur menguasaiku. Apapun yang menjadi pembenaranmu terdengar klise dikupingku, menyisakan kamu yang terlampau jenuh pula untuk meyakinkanku kesekiankalinya

Yang tersisa kemudian hanyalah aku dan kamu yang saling berada di jarak aman tanpa harus menjadi apa-apa, dan mungkin kamu bisa sedikit membayangkan, bagaimana aku mengagumimu tanpa egois untuk sebuah dekapan, agar tidak ada masing-masing dari kita yang saling melukai kemudian, seperti aku yang kurang mampu mengendalikan cemburuku dan sepenuhnya percaya padamu misalnya, atau kamu yang benci jika harus dilemahkan oleh rindu dan jarak diantara kita nantinya.

Iklan

18 thoughts on “Tanpa Dekapan

  1. Miftah Eres

    “…aku dan kamu yang saling berada di jarak aman tanpa harus menjadi apa-apa…”
    Seperti matahari pada bumi. Tak perlu dekat untuk menghangatkan. Terlebih kalau memang belum mampu menghalalkan. uhuk.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s