Jengah

Belakangan ini, hujan turun sesuka hati, dan kita akhirnya tidak bisa menghindar lagi, seperti hujan yang tak mahu tahu, kekakuan itu memaksa masuk di antara jarak aku dan kamu yang semakin menjadi-jadi.

Perihal kecanggungan yang kemudian menenggelamkan obrolan kita, atau barangkali akulah yang terlalu kaku untuk sekedar canda di kala sore, usahamu menyairkan suasana larut dengan udara malam yang pergi begitu saja.

Mungkin mengesalkan bagimu, ketika butuh usaha yang lebih banyak untuk lebih nekat dari biasanya, tapi alih-alih malah berunjung buntu dengan penolakan halusku.

Ada rahasia kecil yang andai bisa kamu pahami, aku terlalu malu untuk sesuatu yang belum pasti, dan kepastian semacam misteri alam semesta yang jauh dari bisa diduga, pun usaha manusia bukan hanya sekali duakali tak terjawab dengan semestinya.

Aku hanya jengah dengan resiko kehilangan atas sebuah dekapan, ketika kepastian masih di ujung persimpangan.


Post Scriptum: Bagian dari kegiatan rutin menulis bersama kelompok menulis Akarumput.

Terinspirasi dari kutipan sebuah puisi:

Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. – Joko Pinurba. 

Iklan

20 thoughts on “Jengah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s