Belum Sepeka yang Kau Inginkan.

Aku mencarimu di sisa keramaian, menyusuri wajah-wajah yang lalu lalang, dan akhirnya menemukanmu di ujung persimpangan. Aku benci melihatmu disitu, keras kepalamu selalu menang, tak peduli walau ku bilang tak aman berdiri sendirian disana hingga sepanjang malam.

“Sampai kapan mau disini?”

“Lelaki sepertimu takkan paham…”

Mungkin kau benar, aku memang tak peka, aku mana mengerti perasaan perempuan seperti yang kau bilang dengan tatapan mata yang lekat-lekat. Aku mana paham rasanya menjadi perempuan yang mencintai sepenuh hati, pledoimu…ketika menangis di ujung jendela tanpa mau jujur kalau adanya kamu terluka.

“Kau tau, perempuan memang harus menunggu, tapi tak begini caranya. Aku ingin kau pulang…”

Mungkin kau memang benar, aku lelaki yang tak mampu membaca perempuan, aku yang justru marah melihatmu menangis, berdiri di persimpangan jalan tanpa peduli mata yang memandang.

“Tidak ada yang harus ditunggu disini…ku mohon…”

Kau sepenuhnya benar, aku lelaki yang tidak peka dan tahu bagaimana caranya membuatmu menyadari perasaanku, yang tidak tau bagaimana menyampaikan cemburuku, yang belum mampu memahami sepenuhnya meluluhkan hatimu.

Iklan

22 thoughts on “Belum Sepeka yang Kau Inginkan.

  1. audhina

    aku kesel sendiri jadinya.
    .
    mengapa seseorang yang merasa tidak mampu malah menjauh, dan sejatinya yang dijauhi malah ingin membantu, tapi yang menjauh tidak mau dibantu.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s