Delapan Juni Bahagia.

Untuk semua yang maaf gak bisa disebutin satu-satu tapi tiap ucapan melekat dalam memori; yang sudah meluangkan waktu untuk sebuah do’a, dua hal paling mahal dari seorang manusia.

Terimakasih, saya sangat bahagia.

Semoga sehat selalu menyertai sebagaimana do’a yang dilayangkan atas hari lahir ini; 8 Juni 2017. Alhamdulillah. Sekali lagi, Terimakasih. ­čĺť

Anjangsana.

Pada diskusi kecil, kita pun sepakat bahwa tiap perpisahan punya definisinya tersendiri, sebab ia berurusan dengan hati.

Bagimu, perpisahan adalah rindu yang tanpa jeda, untuk kemudian semakin dewasa oleh batas ruang dan waktu.

Sedang bagiku, ia menjauhkan kamu dari aku, sesederhana itu.

Tapi pada perbedaan itu, ada keinginan yang satu; waktu temu yang lebih lama dan mesra untuk membayar rindu.

Sebab layaknya dirimu, aku juga rindu.

IMG_20170523_073328

Hujan di antara Kita.

Lihatlah kita, begitu ironis. Aku senantiasa jatuh cinta pada tiap tetes hujan, sedang kamu senantiasa menghujatnya tiap kali datang.

Bagimu, hujan adalah penghambat yang begitu suka mencuri. Hujan terlalu sering menghambat kamu untuk menjemputku, mencuri waktu kita bukan hanya sejam bahkan seharian hingga kita harus membatalkan rencana perjalanan. Hujan juga terlampau sering membuat kamu harus naik ke loteng rumah demi sinyal telepon genggam untuk menghubungiku. Hujan juga sudah lebih dari sekali membuat kemejamu yang sudah kamu strika rapi demi terlihat tampan di depanku menjadi basah, rambutmu pun acak-acakan, tiap kali itu pula kamu akan menggerutu panjang walaupun sudah ku bilang kamu selalu tampan dengan dan melebihi apapun.

Sedang bagiku, hujan adalah berkah yang tak pernah habis. Hujan adalah kemewahan yang bisa aku dapatkan dengan percuma ketika langit sedang berbaik hati mau melepaskan tiap butirnya turun ke bumi jatuh dengan indah. Hujan adalah nyanyian alam yang menenangkan yang mengantarku terlelap dengan mudahnya. Hujan adalah alasan klasik bagiku untuk menggenggam tanganmu lebih erat seolah jaketmu tak cukup hangat. Hujan adalah pengulur waktu bagiku untuk lebih lama menatapi wajahmu. Hujan adalah saksi bisu akan kenangan kita berdua.

Walau tak jarang hujan jadi bahan perdebatan kita ketika hendak berangkat ataupun pulang. Kamu dengan egomu bahwa hujan tak memberi apa-apa selain penghambat rencana kencan kita di sabtu sore, sedang aku dengan pembelaanku pada hujan yang tak kian membuat kamu ikut-ikutan mencintainya.

Tapi, kini kamu justru memanfaatkan hujan. Menjadikannya alasan untuk membuatku kembali. Menjadi seorang yang seolah begitu mencintai hujan. Sebuah usaha yang menunjukkan kamu berubah, kamu menekan ego demi aku.

Sayangnya sudah terlalu terlambat. Harusnya kamu mulai mencintai hujan sejak desember tahun lalu. Bukan ketika aku sendiri bahkan sudah tak lagi mencintai hujan bahkan membencinya.

***

Aku sudah membenci hujan, aku benci karena tiap kali ia datang, hujan seolah menertawakanku, terlebih hujan mengingatkan aku padamu.

Hujan adalah saksi bisu ketika kamu membuat ngilu perasaanku, saksi bisu ketika egomu terlalu tinggi untuk sekedar menghentikan tangisanku, hujan adalah saksi bisu akan perpisahan kita di sore itu.