Hujan di antara Kita.

Lihatlah kita, begitu ironis. Aku senantiasa jatuh cinta pada tiap tetes hujan, sedang kamu senantiasa menghujatnya tiap kali datang.

Bagimu, hujan adalah penghambat yang begitu suka mencuri. Hujan terlalu sering menghambat kamu untuk menjemputku, mencuri waktu kita bukan hanya sejam bahkan seharian hingga kita harus membatalkan rencana perjalanan. Hujan juga terlampau sering membuat kamu harus naik ke loteng rumah demi sinyal telepon genggam untuk menghubungiku. Hujan juga sudah lebih dari sekali membuat kemejamu yang sudah kamu strika rapi demi terlihat tampan di depanku menjadi basah, rambutmu pun acak-acakan, tiap kali itu pula kamu akan menggerutu panjang walaupun sudah ku bilang kamu selalu tampan dengan dan melebihi apapun.

Sedang bagiku, hujan adalah berkah yang tak pernah habis. Hujan adalah kemewahan yang bisa aku dapatkan dengan percuma ketika langit sedang berbaik hati mau melepaskan tiap butirnya turun ke bumi jatuh dengan indah. Hujan adalah nyanyian alam yang menenangkan yang mengantarku terlelap dengan mudahnya. Hujan adalah alasan klasik bagiku untuk menggenggam tanganmu lebih erat seolah jaketmu tak cukup hangat. Hujan adalah pengulur waktu bagiku untuk lebih lama menatapi wajahmu. Hujan adalah saksi bisu akan kenangan kita berdua.

Walau tak jarang hujan jadi bahan perdebatan kita ketika hendak berangkat ataupun pulang. Kamu dengan egomu bahwa hujan tak memberi apa-apa selain penghambat rencana kencan kita di sabtu sore, sedang aku dengan pembelaanku pada hujan yang tak kian membuat kamu ikut-ikutan mencintainya.

Tapi, kini kamu justru memanfaatkan hujan. Menjadikannya alasan untuk membuatku kembali. Menjadi seorang yang seolah begitu mencintai hujan. Sebuah usaha yang menunjukkan kamu berubah, kamu menekan ego demi aku.

Sayangnya sudah terlalu terlambat. Harusnya kamu mulai mencintai hujan sejak desember tahun lalu. Bukan ketika aku sendiri bahkan sudah tak lagi mencintai hujan bahkan membencinya.

***

Aku sudah membenci hujan, aku benci karena tiap kali ia datang, hujan seolah menertawakanku, terlebih hujan mengingatkan aku padamu.

Hujan adalah saksi bisu ketika kamu membuat ngilu perasaanku, saksi bisu ketika egomu terlalu tinggi untuk sekedar menghentikan tangisanku, hujan adalah saksi bisu akan perpisahan kita di sore itu.

Kenapa Tidak Pernah Kopi?

“Kenapa tidak pernah kopi?”

Sudah lama sejak terakhir kali kamu menanyakan hal tersebut, sudah terlalu sering hingga kamu jengah bertanya hal yang sama ku pikir, walau lebih tepatnya karena apa yang ku kira akan datang sudah menyapa lebih cepat dari dugaan, kamu pun pergi, bersama pertanyaanmu yang sering pula ku abaikan.

Apapun asal bukan kopi, ucapku tak acuh yang kemudian membuatmu gemas, dan seperti rutinitas kamu kembali mempertanyakan kenapa kopi tidak pernah jadi pilihan. Padahal kita sama-sama mencintai kopi tapi ironisnya kopi tak pernah menjadi teman ketiga ketika kita melewati malam berbincang banyak hal. Kenapa harus sekedar jus atau teh, kenapa bukan Kedai Kopi yang hanya lima meter dari tempatku atau Omah Kopi yang hanya beberapa langkah dari rumahmu.

Aku tahu hanya soal waktu ketika kamu akan pergi, aku paham aku tak punya kesempatan. Aku tak ingin mendapati kenangan tentang kita menguak ketika ku hirup aroma kopi yang biasa menjadi candu bagiku di malam hari, pun senyumanmu terlintas ketika ku seduh kopi yang biasa menemaniku menyapa pagi.

Aku paham bagaimana kenangan bisa menyergap tiba-tiba pada hal-hal yang menjadi saksi momen kita berdua. Seperti bagamana kopi nantinya akan terasa hambar, bukan pahit yang nikmat, pahit yang membuat ngilu perasaan, menyadari kamu hanyalah sebatas kenangan.

IMG_20170401_005343

Foto milik Er Ka De.

Belum Sepeka yang Kau Inginkan.

Aku mencarimu di sisa keramaian, menyusuri wajah-wajah yang lalu lalang, dan akhirnya menemukanmu di ujung persimpangan. Aku benci melihatmu disitu, keras kepalamu selalu menang, tak peduli walau ku bilang tak aman berdiri sendirian disana hingga sepanjang malam.

“Sampai kapan mau disini?”

“Lelaki sepertimu takkan paham…”

Mungkin kau benar, aku memang tak peka, aku mana mengerti perasaan perempuan seperti yang kau bilang dengan tatapan mata yang lekat-lekat. Aku mana paham rasanya menjadi perempuan yang mencintai sepenuh hati, pledoimu…ketika menangis di ujung jendela tanpa mau jujur kalau adanya kamu terluka.

“Kau tau, perempuan memang harus menunggu, tapi tak begini caranya. Aku ingin kau pulang…”

Mungkin kau memang benar, aku lelaki yang tak mampu membaca perempuan, aku yang justru marah melihatmu menangis, berdiri di persimpangan jalan tanpa peduli mata yang memandang.

“Tidak ada yang harus ditunggu disini…ku mohon…”

Kau sepenuhnya benar, aku lelaki yang tidak peka dan tahu bagaimana caranya membuatmu menyadari perasaanku, yang tidak tau bagaimana menyampaikan cemburuku, yang belum mampu memahami sepenuhnya meluluhkan hatimu.